"Be who you are and say what you feel, because those who mind don't matter, and those who matter don't mind." (Bernard M. Baruch) | "Writing is not just a process of creation. It is also a process of self-discovery” (Cristina Istrati) \^_^/
Huuhuhuhuhuhuuh….. hari ini aku merasa sangat malu, kecewa, marah dengan diri sendiri.. Betapa tidak, Pemahaman Alkitab yang kuikuti sepertinya hanya menunjukkan bahwa aku ‘ngali’.. Aku bingung, apakah yang kuikuti tadi itu Pemahaman Alkitab atau Kelas Debat ilmiah, Tafsir PL, Sejarah Dunia atau Debat Terbuka.. Aku merasa di antara semua yang hadir aku yang paling ‘gak tau apa-apa’. Perdebatan yang panjang dengan beberapa pertanyaan yang juga cukup membuatku bingung.. Misalnya : Menurut Anda, apakah konspirasi atau ‘komplotan’ untuk memperjuangkan demokrasi di suatu Negara otoriter dapat disetujui iman Kristen? Aku yang selama ini masa bodoh dengan hal-hal yang demikian paling tidak harus mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut. Selanjutnya pertanyaan : Dalam sejarah Negara-negara modern sekarang ini, sejauh manakah campur tangan Tuhan dapat kita lihat? Berikan contonhnya. Yang menjadi persolan adalah bagaimana melihat campur tangan Tuhan dalam pergolakan di Libya, Yaman, Bahrain… Mungkin otakku bekerja kurang maksimal tadi, tetapi sudah kupaksa sedemikian rupa. Hasilnya… gak tahulah tadi seperti apa.. Rasanya setelah menjawab tadi aku langsung menghilang…. Malu…………………. Sungguh malu……….. L
Belum lagi istilah-istilah yang baru……… untung sudah mulai terbiasa.. jadi artinya ku pas-paskan saja… J Tetapi selalu teringat : “We can face any fear”. Aku pasti bisa. Belajar dari pengalaman. Semoga minggu depan mimpin sudah jauh lebih bagus dari posisi sebagai peserta pada hari ini.. Tafsiran Yesaya & Internet… I’ll give my best.. J dan akan kubuktikan!!!
Hah…………………...akhirnya hari ini berlalu… Dan thanks God aku bisa melewatinya.. Pagi 09.30-17.00 ngantor, pulang sebentar kemudian 19.30-22.00 lanjut lagi rapat. Sebenarnya ada 2 kegiatan dalam waktu yang sama : Rapat panitia Bulan Keluarga dan latihan drama musical. Yang terjadi malah bukan kedua kegiatan itu yang diikuti malah jadinya ikut rapat Komisi Persekutuan dan Ibadah.. Entah apa kataibu-ibu yang sudah menjadwalku di 2 kegiatan tersebut.. Semoga besok bisa menjelaskan.. btw, rapat tadi membuatku belajar beberapa perbendaharaan kata… Yang beberapa kayaknya asal kutebak aja artinya (habis kayaknya baru dengar kata itu). Semi inggris… hahahaha… gpplah menikmati saja.. J semoga balik ke Salatiga aku gak jadi orang yang bicara semi juga…
Huaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhccccccccccccc…………….mengantukkkk!!!!! tidur ach,, besok harus perlawatan ke rumah sakit lagi.. dan sorenya ikutt PA. kayaknya gak ada hari tanpa gak ada kegiatan malam di gereja… Rutinitas sama 09.00-17.00 & 19.30-21.30 di gereja… jangan mengeluh, Is… waktu kecil ‘kan pengen seperti ini. hari-hari selalu di gereja. So, selamat menikmatilah…. J
Minggu, 04 September 2011
MISS U, GUYS…
Benci perasaan yang berkecamuk dalam diriku saat ini. Entah apa sebabnya. Perasaan tidak nyaman, gak enak, ingin rasanya cepat-cepat kembali ke Salatiga dan berkumpul bersama teman-teman. Aku bahkan lebih memilih mengerjakan tugas yang bertumpuk-tumpuk asal di Salatiga bersama teman-teman, tidur di kamar kostku dan bisa sharing banyak hal bersama teman-teman Teologi 2008. Tetapi, itu tidak mungkin terjadi. Aku masih harus tetap berada di sini. Mungkin aku hanya belum terbiasa dengan keadaan di tempat ini, penyesuaian diri, berikut tuntutan-tuntutan yang harus kupenuhi. Aku benci diatur. Harus begini dan harus begitu. Ya, mungkin itu untuk kebaikanku tetapi aku tidak mau diatur. Aku terbiasa melakukan segala sesuatu sesuai keinginanku, tanpa menunggu orang lain mengaturku. Di tempat ini aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus bisa seperti ini dan harus dapat seperti itu. Sedapat mungkin harus menyapa semua orang di gereja dan berbasa basi mengenai apa saja, menurutku ini bukan pribadiku. Aku takut jika yang kujalani selama ini hanya pura-pura dan pada akhirnya ketahuan belangku. Otak harus bekerja setiap saat, tidak boleh kosong, harus siap sedia dengan gagasan-gagasan baru sebab mereka berharap banyak terhadap mahasiswa PPL (atau ingin menguji). Seperti hari ini, dipaksa memberikan ide sementara otak ini rasanya sudah blank.. Telah dipaksa berpikir sedemikian rupa idenya bahkan tak kunjung muncul sementara yang meminta ide semakin mendesak.. Ya, aku GAGAL memberikan ide. Entah apa pendapat mereka… Whatever…
Rasanya ingin berteriak sekuat-kuatnya…. Melepaskan semua yang menyesakkan dada. Aku benci semua perasaan gak enak dalam diriku, aku benci gak bisa cepat akrab dengan pemuda gerejanya, aku benci karena harus sendiri dan gak bisa cerita hal ini ke siapa-siapa (face to face). Tuhan, aku butuh seseorang disini untuk mendengar keluh kesahku, tapi aku juga takut mendapat orang yang seharusnya tidak dapat kupercaya. Aku benci………………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Teman-teman ’08 gimana keadaan kalian? Kangen banget kumpul sama kalian, kangen banget kerja tugas bersama kalian, kangen banget berbagi cerita dan tertawa bersama kalian… Sangat sangat merindukan saat-saat bersama kalian..:) Dan inilah yang kulakukan, mendengarkan untaian lembut kalimat-kalimat ini :
We are one! Hold my hands!
We can face any fear, we are one! Don't forget!
There is nothing can break us
Though the world tries to kill you
Don't be afraid I’ll give my hands, I’m with you.
Don't be scared ‘cause we are one!
Ya, we can face any fear. Mungkin inilah yang sedang terjadi pada diriku. Terlalu banyak ketakutan-ketakutan yang kadang membuatku berpikir : “aku harus menyudahi semua ini”. Tetapi perjalanan sebenarnya masih sangat panjang. Ini baru permulaan. Masih akan ada banyak minggu lagi untuk berada di tempat ini. Aku banyak kali memotivasi teman-teman tetapi kenyataannya aku sendiri sering gagal memotivasi diriku sendiri. Capek, lelah dan kawan-kawannya bahkan membuatku menarik nafas panjang, OMG.. ini belum seberapa. Masih akan ada bulan Desember yang pasti akan lebih melelahkan. Setiap bangun di pagi hari aku berdoa meminta kekuatan agar mampu melewati satu hari itu. Kalau di kampus aku meminta kekuatan untuk menjalani hari-hariku yang banyak, di tempat ini aku hanya meminta kekuatan untuk dapat melewati satu hari. Begitulah, setiap pagi aku memohon kekuatan untuk melewati hari tersebut. Sebab yang sering terjadi, tengah hari aku bahkan merasa sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk menghabiskan sisa hari itu.
Dibalik perasaan tak enak yang kurasakan, aku bertemu seorang nenek yang sudah berusia 80 tahun yang masih kuat melakukan pelayanan di 2 gereja sekaligus. Paduan Suara, perlawatan, ibadah lansia, dll. Wow… aku saja yang masih mudah sering merasa, Ah Tuhan ini terlalu berat, itu terlalu melelahkan tetapi seorang nenek seperti Oma Barnabas ini sungguh memotivasi. Ayo Is, u can do that.. Kata seorang teman (mhsw PPL juga) “Kadang kita memang perlu jatuh supaya tahu bagaimana harus bangun”. Ya, kita butuh banyak pengalaman supaya perasaan kita tidak menjadi tumpul dan menegaskan bahwa kita ini adalah manusia yang memiliki perasaan. Pengalaman yang juga tidak akan kutemui jika hanya terus berada di kampus.. Tidak ada cara lain selain menikmati pengalaman-pengalaman ini.
Ternyata seharian di gereja menyadarkanku bahwa inilah pelayanan yang sesungguhnya. Gereja menjadi rumahku yang kedua, rumah rasanya hanya seperti tempat persinggahan sementara untuk makan, mandi, tidur. Setelah seharian di kantor, masih harus membantu panitian bulan keluarga membuat piƱata. Badan rasanya udah lengket-lengket semua. Akhirnya pulang juga tetapi harus bergegas mandi dan siap untuk mengikuti ibadah penghiburan. Tiba dari ibadah penghiburan waktu sudah menunjukkan 21.00. kalau di Salatiga waktu segini belum mengantuk, di sini mata sudah tidak kuat menahan kantuk padahal harus mencarikan bahan renungan dan tema untuk ibadah lansia minggu depan. Alhasil, dengan beranggapan bahwa masih ada besok pagi aku pun tertidur..
Pagi harinya tumben bisa bangun pukul 06.00. Secepat kilat Alkitab disambar, bolak-balik mencari ayat, ilustrasi, gak ketemu-ketemu padahal sudah pukul 07.00 dan harus segera bersiap-siap untuk perlawatan ke rumah sakit. Ternyata perlawatan belum diperkenankan, customer service belum masuk semua jadi tidak diijinkan melakukan perlawatan tanpa didampingi customer service rumah sakit. Pulang dari rumah sakit rasanya pengen tidur lagi tetapi harus ke kantor.. berusaha untuk menguatkan diri sendiri. Hari ini harus dilewati.. membayangkan kegiatan-kegiatan yang akan dilalui. Tanggapan-tanggapan dari jemaat. Rasanya pengen lari dari semua ini. waktu ke gereja seorang bapak berkata : “bagus non, kamu sudah mulai sedikit berubah”, bapak lain menyambar ; “apa yang berubah?” “ini loh, dia sudah mulai inisiatif”. Ingin rasanya tidak mengerti apa maksud kalimat itu, tetapi aku tahu benar apa artinya karena aku pernah ditegur beberapa hari yang lalu : “ non, menjadi seorang calon pendeta itu harus punya inisuatif, jangan tunggu bola datang padamu, kamu yang harus kejar dan tangkap bolanya”. Rasanya gak enak banget keluar dari zona nyamanku di kampus. Tuntutan harus bersikap ramah terhadap semua jemaat, menyapa mereka dengan 3S : sapa, salam, senyum… Aku tahu ini untuk kebaikanku tetapi aku juga merasakan bahwa kejujuran dan pengakuan akan apa yang benar memang tidak selalu manis didengar telinga. Aku hanya berharap semoga dengan berusaha menjadi ramah, sopan dan baik pada orang-orang yang baru kukenal tidak membuatku menjadi pribadi yang lain dari diriku. Semoga hal-hal ini adalah sisi-sisi baik dari diriku yang selama ini belum kuekspresikan ke luar. Kalau di pikir-pikir kritikan tadi belumlah seberapa dibandingkan dengan apa yang akan kuhadapi ke depan, semoga nantinya tidak membuatku menjadi patah semangat dan berputus asa.
Sapaan “IBU” di tempat ini membuatku merasa ada tanggung jawab besar yang ada padaku sementara aku selalu memandang diriku bukanlah siapa-siapa.. Semoga pengalaman demi pengalaman di tempat membuatku dapat berdiri tegak dan berkata : aku bisa!!
Kamis, 01 September 2011
HARI KEDUA YANG MEMBINGUNGKAN
Entah harus dengan kata apa yang tepat untuk menggambarkan apa yang kualami saat ini. senang, ia, karena segala fasilitas terpenuhi. Kamar tidur yang nyaman, adik-adik yang manis-manis, pembantu yang ramah, dan bapak-ibu yang sangat baik.. mereka selalu memperhatikan apa yang kubutuhkan bahkan hal-hal kecil seperti makan pagi, siang dan malam, snack, dan ngeteh. Bingung, ia, sepertinya aku disini bukan untuk MELAYANI melainkan DILAYANI. Ruang kamar ini memang sudah seperti kos-kosan di Salatiga plus keterjaminan makanan. Aku berharap semoga di gereja pun jangan demikian. jauh-jauh datang ke sini dengan semangat melayani malah yang terjadi dilayani. Aku rasanya tidak pantas mendapatkan ini. It means I have to give my best. And I’m scared for that. Aku takut tidak mampu memberikan seperti yang mereka harapkan. Aku kadang berpikir aku bukanlah siapa-siapa sehingga mampu melayani mereka yang menurutku memiliki kemampuan jauh di atasku, pengacara, dokter, pengusaha, pendeta, vicaris, dan orang-orang hebat lainnya. Kemampuanku di bidang akademik, (FTeol UKSW) seolah-olah tidak ada artinya sama sekali. Di kampus aku boleh ‘angkat ekor’ tetapi di jemaat “I’m nothing”. Kemudian aku berpikir, seharusnyalah demikian supaya aku dapat mengandalkan Tuhan di dalam ketidakmampuanku.. Karena kalau aku merasa dapat melakukan semua hal dengan baik tidak akan ada tempat bagi Allah untuk berkarya di dalamku.. Pada akhirnya disinilah tempat aku diproses, dibentuk dan dipakai Allah… Dunia kampus dan pelayanan memang berbeda, di kampus sangat nyaman dan aku bisa ‘angkat ekor’ di jemaat aku akan diproses dengan cara Tuhan melalui suka-duka, senang-sedih, kecewa, sakit hati, bahagia, dll. Namun disinilah keseimbangannya. Pelayananku tidak akan berarti apa-apa jika tidak berada di jemaat..
“Ini aku, Tuhan, aku siap dibentuk seperti yang Kau mau”