Rabu, 16 November 2011

Seseorang mengaturnyaaaa

            Aku sangat tidak mengerti Tuhan. Waktu 1,5 bulan di jemaat pusat tidak cukup memberi kesan yang mendalam. Tetapi keberadaan dan pelayananku di Pos Tanjung Uban selama 2 minggu (hanya 2 minggu) sudah memberi kesan mendalam bagi diriku sendiri maupun bagi jemaat. Setelah pelayanan 2 minggu itu, kini aku mendapatkan tawaran pelayanan di Angkatan Laut dan yang paling istimewa kepercayaan untuk melayani di kebaktian Natal 25 Desember 2011. Melihat semua yang telah kulalui selama 2,5 bulan ini aku merasa seperti para gembala di padang rumput, saksi pertama kelahiran Yesus Kristus. Orang-orang yang hina, tidak dipandang di masyarakat, dan yang sebenarnya tidak pantas atas berita itu apalagi menjadi orang pertama yang mengetahui berita sukacita tersebut. Lalu siapakah saya, kemudian layak berdiri di mimbar dan mewartakan berita kesukaan yang sama?
            Aku sadar dengan benar, bahwa bukan karena apa yang telah kulakukan selama 2 minggu di sana yang membuatku menarik di mata mereka (jemaat) sehingga mereka MEMINTAku untuk melayani di hari Natal itu. Bukan karena hal itu yang membuatku layak memperoleh kesempatan pelayanan ini. Aku tahu ada TANGAN yang tidak kelihatan yang telah, sedang dan akan bekerja. Ada SESEORANG yang mengatur semuanya dengan sempurna dan melayakkan semua pelayananku sehingga menjadi berkat bagi jemaat. Terima kasih telah membuat aku berkesan di hati mereka.
            Aku berharap semoga perasaan seperti ini akan muncul terus dalam setiap kali kesempatan pelayanan yang aku peroleh supaya aku dapat melakukannya dalam takut akan Tuhan. Dan pada akhirnya tidak menjadi sombong. 

Rabu, 09 November 2011

Konsen, Is konsennn

Hedeh hedehhhhh...................
susahnya menemukan ide untuk khotbah minggu besokkk
4 bacaannn dan harus menemukan benang merah antara ke-4nya..
Waktu yang ada tak dapat kugunakan secara maksimal padahal ntar jam 2 harus ke gereja ikuttt pemberkatan nikah jemaat, malamnya ikutt resepsi, besok jumat ngajar play Group sampe siang, besok sabtu pagi perlawatan, ibadah lansia, ibadah sekolah minggu denominasi, ngajar katekisasi, sermon dan minggu pimpin kebaktian minggu..
Biasanya hari kamis khotbahnya udah 80% na kali ini boro2... :(((
Harus bagaimana lagikah???

Ayooo Ester Damariissssssssssssssss semangatttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

khotbahnya harus dikonsultasikan lagiiiii.. OMG

Jumat, 04 November 2011

Benciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Susahnya jadi diriku..
Sudah sulit tertarik, sekali tertarik susah lepasnya..
Masih berharap semua yang terjadi kemaren itu bukan mimpi
Mungkin terlalu berharap banyak
Meskipun bukan aku yang salah
Benci rasanya jika mengingat kejadiannya
bisa-bisanya pertahananku jebol
Masih terus berharap itu bukan mimpi
Ternyata memang hanya mimpi
Terlalu bego aku menggantungkan harapan sebesar itu
Pada akhirnya harus siap jadi KONSELOR!
Walaupun pada akhirnya aku menerima tugas itu sebagai bagian dari Panggilan
tapi aku masih tetap membenci perasaan yang seringkali merindu ini
Kenapa harus dia?
wah wah kayaknya ada yang salah dengan susunan saraf di otakku, nih.

Pada akhirnya harus membuka kembali file-ku yang sudah lama tersimpan..
kisah beberapa bulan yang lalu
Salah satu kalimatnya berkata : tetapi di atas semua sakit hati yang kurasakan aku sadar bahwa aku memerlukan pengalaman ini untuk menjadi berkat bagi orang lain yang mungkin juga akan mengalami hal yang sama seperti yang kualami”. 

Huffffffttttttttttttttttt Hamba Tuhan, apakah memang harus mengalami semua hal pahit supaya bisa jadi berkatt??

Tapi aku benci merindukannya!!!!


Senin, 31 Oktober 2011

Asam Manizt PPL6

            Hari pertama di 2 bulan terakhir tahun ini. hari pertama ke kantor lagi setelah 2 minggu di Pos jemaat (Tanjung Uban, Pulau Bintan). Pulau besar tapi nomor urut 2 setelah Batam kalau soal kemajuan kotanya. Sangat senang berada di Pulau itu, bertemu orang tua baru yang sangat-sangat memberiku ruang dan waktu, seperti papa+mama sendiri. Boleh tidur dan bangun sesuka hati. Mengutamakan agar aku menyelesaikan tugasku terlebih dahulu sebelum membantu ibu di dapur. Setiap pagi aku selalu punya waktu untuk mempersiapkan khotbah dan Puji Tuhan bisa bangun jam 04.00 WIB, 04.30 WIB. Setiap pagi bantu ibu masak sambil nonton Rangking 1 (jadi suka acaranya padahal sebelumnya biasa aja). Setelah itu kunjungan-kunjungan ke rumah jemaat. Di sini aku benar-benar merasa dibutuhkan dan dapat memberikan kontribusi yang banyak pada jemaat. Benar-benar merasakan kehidupan jemaat berikut pergumulan-pergumulan mereka yang pada akhirnya menguatkan aku juga. Merasakan memimpin ibadah 6x dalam seminggu. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Termasuk bertemu seseorang yang rasa-rasanya tak ada alasan untuk terus mengingatnya tapi pikiran ini tak mau kompromi. Pertama kali bertemu cowok yang nampaknya sederhana padahal sangat berada. Tak kelihatan jika tak diceritain. Sangat ramah, sopan, bahkan rajin ke gereja padahal tempatnya bekerja dan tinggal sangat jauh dari gereja dan hanya bisa bertransportasi menggunakan ojek karena gak ada angkutan umum masuk PT. Hmmm……. 2 minggu paling mengesankan. Sepertinya ini orang salah suku, sangat berbeda jauh dengan orang-orang sesukunya yang telah terkenal dengan karakter tertentu. Ckckkckck tapi tak mau hal ini terus berlanjut. Ya. Menentukan batas PROFESIONALITAS! Sadar tugas dan tanggung jawab serta tujuan keberadaan di jemaat. Meskipun harus diakui, sangat senang bisa mengenalnya. This is it… ‘asam manis’ PPL 6.
            Dan semalam dapat gaji pertama *tanda kasih dari Gereja* (menerima disaat tak menginginkan diberi). Pernah berdoa supaya aku jangan dikasih uang saku dulu saat menginginkan dikasih dan benar, doaku dijawab. Aku diberi saat malah merasa tak pantas untuk diberi. Ya supaya aku tahu bersyukur (mengalami prinsip memberi :  memberi sebenarnya sedang membuka tangan untuk menerima.

2 Minggu Paling Berkesan

            Aku bersyukur untuk semua kejadian yang kualami selama PPL 6 ini. GKI Bundasudi-Batam benar-benar memberikanku pengalaman-pengalaman iman yang berharga. Aku tahu pengalaman-pengalaman semacam ini tidak akan pernah bisa kuperoleh di tempat lain. 1,5 bulan berada di jemaat pusat benar-benar menguras otak dan air mata. Berusaha sekuat tenaga dan hati untuk tetap bertahan dan percaya bahwa yang kualami saat ini merupakan bagian dari proses Tuhan. Bahkan aku tiba di masa dimana aku pengen cepat-cepat menyudahi semuanya. Di titik terendah dari semua kemampuanku, Allah menarik aku ke sebuah Pulau yang membuatku merasakan bagian terindah dari keputusanku untuk hidup melayani-Nya. Di pulau ini, Bintan, untuk pertama kalinya aku merasa ‘kerasan’ melakukan PPL 6. Suasana tempat yang tenang, keluarga yang sangat baik dan memberikanku ruang gerak yang leluasa, aku bebas menjadi diriku sendiri, pokoknya benar-benar ‘feels like home’. Aku merasa diasingkan sementara selama 2 minggu oleh Tuhan agar aku dapat menarik nafas, mengumpulkan tenaga, menjadi segar lagi untuk menghadapi 2 bulan tersisa di pusat. Aku beryukur untuk 2 minggu berharga ini. 2 kali khotbah mimbar, persekutuan keluarga, kebaktian pemuda, persekutuan wanita, merasakan full PF dalam seminggu. Akhirnya aku memperoleh kesempatan ini. Bertemu seseorang yang membuatku terinspirasi bagaimana memperlakukan sesama, baik, tulus, rendah hati dan setia (terima kasih pernah mengenalmu *someone*, berharap bisa bertemu di lain waktu). Bertemu ibu-ibu yang sangat ketus dan pada akhirnya bisa tersenyum padaku, orang-orang dengan masalah yang kompleks. Akankah hal-hal ini pada akhirnya membuat aku menetapkan hati dan memantapkan langkah untuk menjadi seorang pendeta? Akhir dari proses inilah yang menentukan. 2 minggu ini seperti RETREAT, Tuhan memberikanku kesempatan untuk menarik diri dari rutinitas yang membuatku lelah untuk melihat dari jauh apa sebenarnya yang sedang ku alami, mengumpulkan kekuatan baru, terlebih memiliki waktu khusus bersama Tuhan. Thanks to be here.
            Ternyata panggilan untuk menjadi seorang hamba tidaklah mudah. Sangat hebatlah orang-orang yang bertahan dan dengan hati yang tulus tetap mau melayani Tuhan. Betapa sulitnya panggilan hidup seperti ini. menjadi pertanyaan besar untukku: Siapkah aku dengan jalan hidup seperti ini ke depannya?

Selasa, 11 Oktober 2011

Pengen menyudahi ini semua.............

Tuhan…
Aku tak ingin menyerah… Tapi aku merasa ini terlalu berat. Teman-teman lain telah betah di jemaat mereka masing-masing dan hampir tak mau pulang ke Salatiga. Aku malah ingin lekas-lekas menyudahi ini dan kembali ke Salatiga, menikmati kenyamanan di kost Candy Ladies, sejuknya kampus UKSW dan kebersamaan yang indah bersama GKI Salatiga..
Aku berusaha menikmati ini, tetapi aku masih belum menemukan alasan dan hal yang membuatku benar-benar betah di tempat ini. Aku tak ingin menyerah Tuhan,, tapi ini terlampau berat bagiku.
Seseorang berkata kepadaku “Ris, kalau kualitasmu 10 jangan minta tantangan yang nilainya 8 tetapi mintalah tantangan dengan nilai 12”. Tapi aku sering bertanya : “Apa benar Tuhan?” “Are U sure?” Bukan aku tak percaya pada setiap rancangan-Mu, bukan aku mau mengeluh tapi sungguh merasa ini terlalu berat. “Apa tak salah Tuhan menempatkanku disini?” Aku mengalami banyak hal baru yang membuat air mataku jatuh. Aku tak mau cengeng tapi……………..
Maafkan aku, kalau aku menganggap pelayanan ini sebagai beban yang berat. Aku berusaha menikmatinya. Tolong lengkapi aku dengan kekuatan yang cukup untuk bertahan…
Mengapa teman-teman lain dapat dengan cepat beradaptasi dan menikmati keadaan mereka? Apa yang salah dengan diriku? Atau apa ini menandakan bahwa aku tak ‘cocok’ berada di bidang ini?
Aku hanya ingin cepat mengakhiri ini semua, Tuhan….

Jumat, 07 Oktober 2011

Gak Mandi?!

Hayoh…………… bangun pagi terasa gak ada beban karena mikir hari ini bisa santai-santai buat jurnal dan tidur setelah ibadah Lansia… Oalllaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh………….. Ternyata aku melupakan sesuatu. Pagi ini pukul 07.30 ada doa pagi di gereja. Ibu di rumah pamit sama bapak “Pi, pergi ya” Aku berpikir tumben banget ibu berangkat kerja cepat. Beberapa detik kemudian terdengar  “Ester ayo…” What? Kog aku dipanggil? “Ya, bu”, “Ayo doa pagi”. Astagaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Pantas aja ibu berangkatnya cepat karena masih mau doa pagi… Matilah.. Aku belum mandi. Alhasil, doa pagi TIDAK mandi. Bermodal CM (cuci muka) ganti baju dan meluncur.. Ckckkckckckc kejadian konyol…. Untung yang tahu hanya ibu di rumah.