Senin, 07 Oktober 2013

Seseorang Seperti Papa


Tulisan ini terinspirasi pengalaman-pengalaman yang ku amati. Sejak kecil papa mama selalu mengajarkan kami anak-anaknya untuk berdoa dan beribadah bersama. Seringkali papa yang mimpin doa tapi tak jarang juga kami digilir untuk berdoa. Hal yang baru kusyukuri setelah tiba di jawa adalah momen di sekitar meja makan bersama keluarga. Tidak ada satu anggota keluarga yang boleh makan terlebih dahulu sebelum doa bersama kecuali sakit. Doa makan merupakan momen di mana papa mendoakan semua pergumulan kami sebagai keluarga, mendoakan keluarga dan kami anak-anaknya. Ada kedamaian dan kebanggaan (perasaan ini sukar digambarkan dengan kata-kata) saat papa menyebut nama kami satu per satu dalam doanya. Kami mendengar papa mendokan kami, menyerahkan kami pada Tuhan dan mendengar harapan-harapan papa bagi kami. Doa menjadi satu-satunya kekuatan bagi kami sekeluarga. Setiap kali akan melakukan sesuatu atau akan bepergian, hal pertama yang wajib dilakukan adalah berdoa. Entahlah, selama bertahun-tahun aku telah mendengar papa berdoa bahkan tak jarang mendengar kalimat yang sama berulang kali tapi tidak pernah bosan mendengar papa berdoa. Masih ingat dengan jelas saat pertama kali datang di jawa, papa berdoa sambil berurai air mata melepasku, dua tahun kemudian baru aku mengerti bagaimana perasaan papa melepas anak perempuannya pergi jauh saat semalaman aku menguatirkan adik laki-lakiku yang melakukan perjalanan seorang diri dari Bali menuju Salatiga. Juga masih ingat dengan sangat jelas air mata papa dalam doa ketika berdoa di kos-kosan di Salatiga ketika akan berangkat mengikuti upacara wisuda. Aku tahu air mata itu adalah jawaban bagi air mata papa saat aku pertama kali mengayunkan kaki keluar dari rumah untuk merantau. 

Sampai saat ini masih suka merindukan momen-momen itu. Merindukan suasana Senin pagi ketika beribadah membuka minggu kerja yang baru dan suasana Sabtu malam ketika beribadah menutup minggu kerja. Banyak kekuatiran, ketakutan, kebimbangan lenyap saat mendengar papa dan mama berkata: "nanti papa mama doakan", atau "siapkan hati kita berdoa" (dan kami pun berdoa jarak jauh di telepon, papa mama di sumba dan aku di jawa). Jika sakit, hal pertama yang kulakukan adalah menelepon mama untuk memberitahu sekaligus minta doa. Dan selalu keadaan menjadi jauh lebih baik setelah tahu bahwa mereka mendoakanku. 

Ketika di Salatiga aku bertemu dengan seorang tante yang juga melakukan hal yang sama, keluarga yang selalu berdoa, dan kadang-kadang tante ini punya kontak batin denganku. Saat aku sedang suntuk dengan permasalahan tanpa direncanakan tante ini bisa menelepon dan memberi kata-kata yang menguatkan dan tak jarang aku selalu menemukan kekuatan baru setelah ditelepon. Aku memberi nama tente ini: tante teladan iman. Selalu ada keteduhan tiap kali berkunjung ke rumah tente itu, seperti sedang melakukan retreat. Ahhh kangen tante itu dan suasana rumahnya. 

Beberapa saat yang lalu aku menghadiri sebuah pertemuan dimana aku menjadi pembicaranya. Saat itu aku bertanya pada semua yang hadir (kebetulan mereka adalah orang-orang muda). Pertanyaannya: Kapan terakhir kali kalian beribadah bersama keluarga selain di kebaktian hari minggu? Tidak satupun tangan teracung. Pertanyaannya aku rubah: Siapa yang berdoa bersama keluarga selama satu bulan terakhir? Senyap. Beberapa bulan terakhir? Masih sepi. Satu tahun terakhir? Semua saling pandang. Aku cuma bisa melongo dengan tatapan tak percaya. Apa yang salah?? Aku tidak sedang salah masuk ruangan, kan? Aku masih belum dapat percaya, bagaimana mungkin mereka tidak pernah kumpul beribadah bersama dan berdoa bersama? Aku tidak dapat membayangkan hal ini karena aku terlalu terbiasa dengan kehidupan papa mama yang mengharuskan kami untuk berkumpul bersama dan berdoa. Pengalaman ini sungguh membuat aku berpikir banyak: zaman ini keluarga-keluarga Kristen sedang berada dalam ancaman. Kelihatannya kita adalah keluarga Kristen tapi di rumah kita sendiri kita tidak mampu (mau) membangun mezbah keluarga. Keteguhan hati seorang pemimpin dalam PL sangat cocok untuk menjadi bahan refleksi dan teladan bagi keluarga-keluarga kristen. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:15c)

Berdoa bersama keluarga banyak sekali manfaatnya. Ketika masih bersama mereka manfaatnya tidak dirasakan tapi ketika jauh seperti sekarang, aku merasakan banyak manfaat:
1. Doa mereka selalu berhasil memberi kekuatan, ketenangan dalam masa-masa sulit
2. Mengetahui bahwa mereka mendoakan kita, itu sebuah bentuk ungkapan kasih dan perhatian dan perasaan berharga
3. Kita tahu kemana kita harus mengadu dan menemukan kekuatan saat begitu banyak persoalan tak mampu kita tanggung sendiri di luar rumah
4. Bagi sebagaian besar perempuan seperti saya, jika kehidupan orang tua saat ini berhasil menginspirasi maka tak jarang keluarga impian yang akan dibangun kelak selalu bercermin dari kehidupan papa mama
5. Dan tak jarang kebanyakan kami (seperti juga saya) akan mencari seorang pendamping hidup yang seperti papa. 

Dan sebenarnya aku iri dengan kehidupan keluarga yang dibangun papa mama. Kadang-kadang bertanya: sanggupkah aku kelak membangun keluarga seperti yang dibangun papa mama saat ini? Pertanyaan ini cuma aku yang bisa jawab :)

Akhirnya, sangat berharap tulisan ini mampu membuat kamu yang kebetulan membaca dapat berefleksi dan terinspirasi untuk merancang keluarga masa depan yang rajin bersekutu (bagi yang masih single) dan untuk menjadi berkat di keluarmu saat ini (bagi yang sudah menikah). 


Tmg, 22.16. 
ris

Minggu, 06 Oktober 2013

Apakah ku jatuh cinta??




Dia yang (tak) ku sukaDia yang (tak) ku dugaTak pernah ku menyangkaApakah ku jatuh cinta
Dia yang sesungguhnya(Tak) mungkin ku terimaApakah ku jatuh cintaKu jatuh padanya
Bersamamu itu (tak) mungkinSungguh (tak) mungkinOh mungkinkah?Rasa ini apa namanyaSungguh ku tak mengertiApakah ku jatuh cinta?
Kadang dia ga pekaGayanya suka norakTapi ku tak kuasaApakah ku jatuh cinta
Mengapa dia buatku bertanyaApa yang terjadi di dirinyaInginku lupakanTapi hati berkata...
Bersamamu itu (tak) mungkinSungguh (tak) mungkinOh (tak) mungkinkahRasa ini apa namanyaSungguh ku tak mengertiApakah ku jatuh cinta?

Sengaja diberi kurung beberapa katanya. Lagu ini cocok untuk menggambarkan saat-saat gila kalo jatuh cinta :p
(Apakah ku jatuh cinta by Sherina ft. Vidi Aldiano)

Jamboreeeee

Cihuiiii akhirnya ikut penjelajahan juga ^^
Harusnya ini postingan kemaren tapi berhubung aku nginap di perkemahan dan pulsa modemnya habis jadinya semalam gak bisa posting apa-apa. Bukan maksud hati bolong posting T.T
Untuk menebus potingan kemaren aku akan posting foto-foto kegiatan kemaren aja
Kemaren kegiatan yang aku ikuti adalah penjelajahan. Medannya naik turun gunung, melewati kebun kacang tanah, sawah kering, kebun cabai, dan jalan yang rusak. Karena salah sepatu kakiku lecet-lecet padahal sepatunya pake yang flat dan termasuk mereka terkenal jadi kualitas terjamin namun ujung-ujungnya lecet juga karena gak pake kaos kaki ditambah cuaca yang benar-benar siap membakar. Yang lucunya, di medan yang gak bersahabat seperti itu ada seorang kakak pembina cewek yang pake pantofel berhak lumayan tinggi. Eksis si iya, tapi medan kayak gitu bergaya??? Ckckckkck

Penjelajahan pake pantofel :p
Padahal medannya kayak gini

Pantofel di sawah? Ckckckc
Aku aja lecet, gimana kakak pembina yang tadi ya? 

Oh ya, penjelajahan kali ini disuguhi pemandangan yang indah oleh Tuhan. Gak berhenti mengagumi buatan tanganNya. 
Gunung Sumbing

Gunung Sumbing
Melewati hasil-hasil bumi
kebun cabe

kebun kacang tanah

Dan ini dia peserta-pesertanya...

regu cewek

regu cowok 
Walaupun kaki lecet-lecet tapi ini penjelajahan menyenangkan, pengalaman baru ^__^

Jumat, 04 Oktober 2013

Bebaskan, bebaskan, bebaskaan....

Salam pramuka!!!!!

Itulah kalimat yang sering banget kudengar hari ini. Yup karena sepanjang hari ini aku mengikuti Jambore Penggalang SD/MI Gugus Depan Kota Temanggung. Ruamenyaaa poll... Ada sekitar 1000an peserta dan kakak pembina/pendamping. Ada begitu banyak tenda dengan beragam kreasinya. Ada yang bela-belain membuat kolam ikan kecil di depan denda, hiasan-hiasan dari barang bekas, bahkan ada yang didesain seperti kantin (sebuah meja dengan berbagai persediaan makanan untuk konsumsi tenda tersebut). Ciri yang paling menonjol dari semua tenda adalah hampir semua tenda memasang pagar di sekeliling tenda. Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa bisa bertemu pembina pramuka dari sekolah-sekolah lain. Bahkan sempat bertemu seorang guru yang juga berasal dari Sumba Barat tepatnya di Waikabubak. Oh ia, ini pertama kalinya dalam hidup aku ikut jambore pramuka. Selama SD-SMP-SMA aku gak pernah ikut karena waktu di SMP ibu asramanya galak dan jarang banget mau memberi ijin keluar sore. 

Saat hasta karya, pionering, melukis
Dan akupun narsis ^^

Ini sebagian kisah hari ini yang membuatku tak melanjutkan menulis tentang buku Barry Chant. Maafkan aku, aku gak sempat membaca hari ini. Terlalu banyak hal yang harus dilakukan, persiapan jamboree, persiapan mengajar sekolah minggu buat minggu besok (menggunting-gunting aktifitas), persiapan bahan khotbah untuk remaja, hasilnya malam ini ganti topik :)
Tapi ada sebuah percakapan hari ini yang mengingatkanku tentang tulisan beberapa hari yang lalu: The Image of God (2) Penguasaan. Inti tulisan itu adalah kita harus dapat menguasai diri kita, menguasasi respon dan reaksi kita terhadap suatu hal, termasuk mengendalikan keadaan. 

Hari ini aku belajar sesuatu yang lain dari tulisan tersebut. Seringkali kita ‘mengijinkan’ orang lain menguasai kita, bertindak semena-mena terhadap kita dan kita merasa itu adalah hal yang sewajarnya terjadi bagi kita. Persoalan ini akan makin rumit jika mereka yang nampaknya menguasai kita ‘nampak’ memiliki segalanya. Kenapa ‘nampak’ memiliki segala-galanya? Karena secara materi mereka memang berlebihan namun secara kasih mereka adalah orang yang perlu dibimbing untuk lebih mengasihi sesama, memanusiakan manusia, melihat sesama sebagai sesama manusia. 

Mengapa orang lain tampak begitu mudah mengendalikan kita, bahkan mengambil-alih pilihan-pilihan kita, dan menyodorkan kita sesuatu untuk kita makan tanpa kompromi terlebih dahulu? Karena kita membiarkan mereka. Kita merasa kita di bawah mereka sehingga mereka 'berhak' melakukan apa saja pada kita. Sungguh sebuah pemahaman yang salah. Kita memakai standar dunia untuk menilai mereka dan diri kita sendiri. Kita memakai standar harta, kedudukan, nama baik untuk mematok seberapa bernilainya mereka dibanding kita. Padahal seharusnya ukuran yang kita pakai adalah nilai kemanusiaan. Mereka manusia, kita manusia. Mereka gambar Allah, kita juga. Hello... kita gak bisa terus-terusan merasa rendah diri karena jabatan kita rendah. Selama kita merasa seperti itu, selama itulah kita mudah sekali dikendalikan, kita akan menjadi 'seseorang yang dapat dibooking kapan saja' dan gak punya kebebasan menentukan mana yang menjadi pilihan kita. Marahlah jika memang harus marah, proteslah jika memang harus begitu, lalu bebaskan diri dari rasa rendah diri dan pemahaman bahwa orang lain selalu lebih hebat dari dirimu. Perasaan rendah diri dapat membunuh semua potensi yang kita miliki. Hormatilah seseorang karena memang ia patut dihormati sebagai refleksi dari gambar Allah bukan karena setiap label yang ada padanya. Percaya deh, aku pernah mengalami ini. Capek tahu kalau bermanis-manis menghormati seseorang karena label-labelnya. Aku selalu berkata dalam hatiku ketika bertemu seseorang yang punya label banyak: dia manusia, aku manusia, so what??? Haruskah saya berbungkuk-bungkuk di depannya untuk menghormatinya? No, thanks. Hal penting yang patut diwaspadai adalah jangan sampai kita menjadi budak uang. Jangan sampai hal ini terjadi. Sekali kita terjebak di dalamnya selamanya kita diperbudak uang. 

Ayoo angkat kepala, tegakkan pandangan, Allah tidak menciptakan kita lebih rendah dari orang lain. Sebaliknya Allah justru memberi kita kemuliaan dan perasaan berharga. Jangan biarkan orang lain menguasai kita, mengendalikan pilihan-pilihan kita dan jangan berikan kebebasan kita pada mereka. Yakinkan dirimu dan pikirkanlah seberapa berharga engkau di mata Allah :)

Lirik lagu ini akan menolong kita berefleksi 

Who am I that You are mindful of me?

Who am I that You sent Your love on me?
You're my Creator King




Tmg, 23.02. ris

Kamis, 03 Oktober 2013

The Image of God (3)

Allowwww...... selamat malam kamis bagi pembaca manis (^_^)

Tulisan hari ini masih menyambung tulisan dua hari kemaren. Kali ini aku akan membahas buku Barry Chant tentang kualitas Allah yang ketiga, yaitu kreatifitas. Sebelum masuk ke pembahasan Chant aku ini ingin bercerita tentang pengalamanku hari ini. Hari ini aku menghadiri rapat panitia Natal di tempat kerjaku. Rencananya natal akan digelar pada bulan Desember sebelum liburan natal. Budget untuk acaranya gede dan disitu dituntut kreatifitas kegiatan. Dan setelah dirumuskan, acaranya cukup padat. Dan sepertinya ini pertama kali sekolah ini mengadakan natal akbar dengan melibatkan semua civitas sebagai pengisi acara. Harapannya tidak ada satupun dari baik murid, guru, karyawan yang tidak terlibat dalam acara ini. Membayangkannya aja aku rada mumet tapi di sisi lain aku excited banget. Kenapa? Karena ini ajang aku berkreasi ^_____^. Heheehhe aku memang orangnya suka banget mengurusi sesuatu apalagi di seksi acara. Ada tantangan tersendiri ketika harus mempersiapkan sebuah acara yang baru dan beda dari sebelumnya. Makanya aku paling malas menghadiri rapat yang hampir sebagian panitianya adalah panitia tahun sebelumnya dan kalimat yang selalu terlontar adalah "kalau tahun lalu.... kalau dulu...." dan hanya mengulang konsep acara dengan mengganti hari/tanggal/tahun. Basiiiiii!!!! Gak kreatif. Satu hal yang kutemui disini adalah mengenai pembicara. Rata-rata jika seorang pembicara terkesan di hati maka jangan heran kalau tahun yang akan datang, pembicara ini akan diundang lagi. Menurutku, kalo udah tahu/dengar gaya bicaranya ngapain diundang lagi? Yang lainlah, biar kita ganti suasana. Tapi justru memang banyak orang 'terlanjur' jatuh hati dan stay di zona nyaman. 


Gambar di atas banyak benarnya. Kreatifitas butuh keberanian/keteguhan hati. Kita gak akan pernah bisa kreatif kalau gak berani ambil resiko. Selain pengalaman rapat, aku punya pengalaman yang lain. Tanggal 19 Oktober mendatang akan diadakan Ibadah Musikal bagi remaja-remaja di gereja dan aku yang menanganinya. Berminggu-minggu aku berkutat dengan liturginya dan sampai hari ini pun belum jadi juga namun tadi kami sudah sempat latihan. Gerejaku GKI jadi selama ini musiknya berbeda sama gereja-gereja karismatik yang full band. Setiap kali remaja GKI diundang ke gereja Karismatik ciri khas yang mereka tampilkan adalah lagu-lagu pop kontemporer dengan full band. Kali ini aku mencoba menawarkan sesuatu yang baru dan berbeda bagi remaja-remaja (kebetulan aku yang koordinir acaranya dan kami mengundang gereja-gereja lain). Aku ingin menunjukkan ciri khas GKI dan memperkenalkan mereka dalam sebuah ibadah yang dikemas dalam sebuah refleksi yang menyatu dengan musik, lagu, drama dan khotbah. 

Menawarkan sesuatu yang baru tidak mudah. Tapi ini yang dinamakan kreatifitas. Dan harus memiliki keteguhan hati/keberanian. Aku kuatir dengan acara ini? Iya. Banyak pertanyaan bahkan keraguan di hatiku: berhasil gak? Mampu dipahami oleh jemaat remaja gak? Sampe gak tujuan kita? Dapatkah suguhan musik 'slow' ini menyentuh hati remaja diluar GKI? Aku kuatir, aku takut. Tapi aku gak boleh berhenti! Aku gak akan pernah tahu kegiatan ini sukses kalau aku gak pernah mencoba. Ide menampilkan sebuah ibadah musikal tanpa seorang MC adalah ide yang nekat. Bagaimana mungkin sebuah ibadah yang bernada KKR bisa tanpa seorang MC? Tapi balik lagi, aku gak akan pernah tahu kalau gak mencoba dan bukankah sesuatu yang baru yang disebut kreatif itu selalu bermula pada ide-ide konyol?
Lihat yukk apa kata Chant tentang hal ini...

3. Kreatifitas  

Semuanya dibawa Allah kepada manusia itu untuk melihat nama apa yang akan diberikannya kepada binatang-binatang itu. Itulah asal mulanya binatang di darat dan di udara mendapat namanya masing-masing (Kej 2:19b - BIS)

Sejak awal Allah telah memberikan sebuah hak istimewa pada manusia yakni kreatifitas. Bayangkan bagaimana kreatifnya Adam memberi nama semua tumbuhan dan hewan. Bahkan ketika ditempatkan di taman Eden pun Tuhan berpesan 'usahakanlah...' Ini berarti sebuah kepercayaan dari Allah. Allah ingin kita kreatif menggunakan semua keterampilan yang kita punya. 
Mengapa banyak orang hidup dalam kebosanan setiap hari? Karena gak kreatif. Kita boleh menjalani runitintas yang sama setiap hari tapi cara dan bagaimana kita berutinitas itulah yang menentukan bosan/tidaknya kita. Seringkali kita terjebak dalam pemahaman: ini kan cuma pelayanan, biasa saja. Padahal tahukah kita ada satu dari sekian banyak orang yang gak berpikir demikian?



Lewi Pethrus mendirikan sebuah gereja Filadelfia pada tahun 1930 dengan kapasitas tempat duduk untuk 3.000 orang di Stockholm. Untuk membangun sebuah bangunan seperti itu di puncak Depresi Besar Swedia sangatlah tidak mungkin tapi mereka berhasil membangunnya. Ketika mereka mencoba mengumpulkan uang di bank untuk membangun gereja lainnya, mereka ditolak. Hasilnya mereka malah mendirikan sebuah bank yang mereka operasikan sendiri dan masih berdiri hingga hari ini. Dengan cara yang sama mereka juga berhasil menerbitkan sendiri surat kabar harian Dagen yang sudah dipublikasikan di stan-stan surat kabar di seluruh negeri. Selain itu, program rehabilitasi Pentakosta Swedia bagi para pecandu nalkohol begitu efektifnya, sampai-sampai pemerintah telah menginventigasinya secara resmi untuk mengetahui rahasia keberhasilan mereka. 

Luar biasa, bukan? Bayangkan kalo saat ini ada 10 saja orang-orang kreatif seperti Lewi... Sejak awal Allah memang telah menaruh kreatifitas dalam diri kita. Pertanyaannya: maukah kita mengolahnya? Mungkin kamu sedang dalam kebosanan terhadap suatu hal, dan membutuhkan ide-ide kreatif. Cari dan temukan dalam dirimu. Potensi itu sudah ada sejak lama, hanya kadang-kadang kita gak menyadarinya. 
Mulailah dari hal kecil, kreatif menata tempat tidur, cara berpakaian, dan kreatif menata hidup.

Hidup menurut gambar Allah berarti hidup secara kreatif. 


Tmg, 23.07. ris

Rabu, 02 Oktober 2013

The Image of God (2)

Selamat malam….. \^__^/

Apa kabarnya??? Hari ini hari kedua dari #tantanganmenulis31hari bersama seorang kakak. Dua hari ini jadi semangat banget mikir mau nulis apa dan sisi positifnya (bahkan jadi cara paling ampuh) adalah aku bisa membaca minimal 5-6 lembar buku per harinya. Mengingat kesibukan yang sangat padat akhir-akhir ini aku hampir-hampir gak pernah menyentuh buku-buku teologi di rak bukuku kecuali kalau akan membuat khotbah. Na, tantangan ini justru membuatku ‘rajin membaca’ lagi. Big thanks for that big sister :*

Tapi sebelum menulis lanjutan buku semalam, aku pengen cerita pengalamanku sepanjang hari ini. Masih seperti biasa sih koreksian numpuk, anak-anak yang menyenangkan, dan kesibukan di gereja. Namun ada beberapa yang perlu kuceritakan. Tadi waktu ngajar di kelas 4 aku bertanya pada siswaku: “apakah kalian pernah kuatir?” hampir semua mengacungkan tangan. Setelah ku tanya satu per satu, hasilnya adalah sebagian besar dari mereka sangat menguatirkan ‘perpisahan’ (perceraian, red) papa dan mama mereka. Aku shock. Aku memang sudah tahu dari awal bahwa di kota ini angka perceraiannya cukup tinggi dan sebagian besar anak-anak yang kulayani memang adalah korban broken home. Tapi mendengar langsung dari mulut mereka hari ini tak pelak juga mulutku terbuka lebar. Jadi berpikir untuk menulis tulisan khusus tentang “perceraian dan mempersiapkan kehidupan pernikahan yang penuh komitmen”. Ditunggu ya, semoga tulisannya jadi dalam waktu dekat.

Pengalaman kedua hari ini adalah mengukur baju paduan suara di gereja. Aku kuatir dengan lebar pinggangku yang bertambah terus setiap ngukur baju. Perasaan kemaren-kemaren hanya 71 sekarang malah udah 78. Sayangnya itu pada baju-bajuku yang emang ngepas di badan, lama-lama gak bisa kepake juga nanti. Ahh sudahlah daripada galau mending aku cerita tentang bagian kedua dari buku Creative Living.


2. Penguasaan 

Barry Chant menulis bahwa Allah ingin kita mempunyai rasa penguasaan. Bagi banyak orang hidup ini diluar kendali mereka. Tujuan hidup kelihatan didikte oleh sesuatu kekuatan di luar diri mereka. Para psikolog mengatakan bahwa ini adalah penyebab stress yang utama. Padahal dalam Alkitab dicatat: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Manusia diperintahakan Allah untuk berkuasa. Hal ini jangan dipahami dalam pengertian manusia berkuasa mengeksploitasi bumi ini. Tidak. Mari kita bergerak lebih dekat pada lingkungan kita. Allah memanggil kita untuk berkuasa atas apa yang terjadi pada diri kita. 

Barry Chant menurut saya menggambarkan hal ini dengan sangat baik dalam beberapa kisah hebat, yakni kisah para martir kristen yang paling menegangkan: dibakar, disalib, disiksa, dilempar untuk dimakan binatang buas tapi mampu menguasai. Ketika disiksa nampaknya mereka kehilangan kendali. Tapi kenyatannya justru sebaliknya. Sepanjang mereka dapat bernyanyi dan memuji Tuhan dengan gembira dalam menghadapi siksaan yang kejam, maka bukan para penyiksa mereka yang benar-benar mengendalikan keadaan tapi mereka yang disiksa. 

a. Blandina (Sta. Blandina) martir di Lyons 

St. Blandina 


Blandina diikat di sebuah tiang gantung, dipamerkan untuk dimakan binatang-binatang buas. Dia seolah-olah tergantung di atas salib, berdoa sungguh-sungguh, dan meyakini bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk menderita bagi Kristus maka tidak satupun dari binatang buas itu yang menyentuhnya. Luar biasa bukan?? Wow......
Tak sampai disitu. Karena penganiaya gemas, Blandina akhirnya diturunkan dari tiang gantungan dan dimasukkan ke dalam penjara. Blandina melihat semuanya itu sebagai panggilan jamuan makan malam dari Tuhan. Puncaknya adalah ia dicambuk, dilepmarkan ke binatang buas lagi, didudukkan di kursi panggangan, akhirnya ia dimasukkan ke dalam jaring dan dilemparkan ke hadapan seekor banteng. Ia sangat tersiksa namun ia tidak merasakan apapun juga sebab ia telah menyatukan penderitaan dengan Kristus. Bahkan orang kafir pun mengakui keteguhan hati dan imannya. 

b. Polikarpus (St. Polikarpus) martir di Smirna

St. Polikarpus

Seorang pria tua, uskup di Smirna. Ia sedang dipertontonkan di kerumunan orang yang haus darah. Orang-orang membujuknya, mereka berkata: "apa susahnya berkata. Tuhan Kaisar, dan selamatkan hidupmu?" Ia tetap tidak bergeming. Ia akhirnya digiring ke stadion dengan luka bagian depan kakinya terpotong dan terluka parah akibat didorong dengan paksa dari kereta kuda. Tetapi tiba-tiba terdengar suara tak bertuan dari langit yang juga didengar oleh banyak orang: "jadilah kuat polikarpus, bertindaklah sebagai laki-laki."

Ketika tiba di depan komandang militer romawi, komandan itu masih berusaha membujuknya: "perhatikan usiamu, bersumpahlah demi kaisar jenius dan katakan 'singkirkan orang-orang atheis'". Namun Polikarpus dengan wajah agung melihat ke arah seluruh kerumunan orang dengan hanya mengatakan: "singkirkan orang-orang atheis". Tetapi komandan itu memaksanya: "bersumpahlah dan aku akan melepaskan engkau, kutuklah Kristus". Dengan tenang Polikarpus berkata: "saya telah melayaniNya selama 86 tahun dan belum pernah sekalipun ia berbuat jahat pada saya, bagaimana mungkin saya dapat mengutuk raja yang menyelamatkan saya?" Pengakuan bersejarah ini tentu saja membuatnya segera dibakar ditiang gantungan. 

Wow..... hebat ya mereka berdua ini. Menurutmu, siapa yang mengendalikan/menguasai keadaan? Para penganiaya atau kedua martir itu? Tentu kamu tahu jawabannya. Mereka berdua membuktikan bahwa meskipun tampaknya semua orang melawan kamu, kamu masih dapat mengontrol dirimu sendiri, reaksi-reaksimu dan nasibmu. Ini pengertian menguasai. 

Ohh ya satu lagi contoh, Tuhan Yesus ketika di hadapan Pilatus. 

"Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?" ( (Yoh 19:10)

Yesus menjawab Pilatus:

 "Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas" (Yoh 19:11)

So, sekarang kita tahu kualitas kedua yang Allah berikan bagi kita adalah PENGUASAAN. Kita yang harus berkuasa atas setiap hal yang terjadi dalam diri kita dan kita berkuasa menentukan reaksi seperti apa yang harus kita tunjukkan. Orang boleh nampak 'menguasai' kita tapi jika kita kuat di dalam Gambar Allah kitalah yang akan menguasai penindas kita. 
Ini penting karena akan berdampak pada lingkungan tempat tinggal kita. Contoh kecil dalam dunia pekerjaan. Jika kita melihat orang lain (bos, atasan) sebagai penguasa kita wah celaka... Ini berbahaya sebab kita tidak dapat mampu menunjukkan kualitas Gambar Allah yang ketiga, apakah itu????
Nantikan tulisan besok yaaaa :)

Semoga tulisan ini menguatkan dan menginspirasimu
Selamat malam
Tuhan Yesus, Guru Sejati kita menemanimu malam ini ^__^


Selasa, 01 Oktober 2013

The Image of God (1)

Lama banget gak nulis di blog ini. Selain karena sibuk banget juga bingung mau nulis apa. Banyak gagasan di kepala tapi menuangkannya sulit apalagi menemukan satu waktu khusus untuk menulis. Sepanjang minggu dari pagi hingga malam jadwalku padat. Pagi-sore di sekolahan, sore-malam di gereja, bahkan weekend pun kuhabiskan di gereja. Kadang-kadang sempat ngeluh dan protes entah harus sama siapa, namun inilah dunia kerja: banyak tanggung jawab. Sepanjang hari-hariku di kota ini kuhabiskan semuanya melayani Tuhan. Orang muda lainnya gak kayak aku, mereka bebas menikmati weekend, bersantai ria, sementara aku hampir-hampir gak punya waktu buat diriku sendiri. Tiap hari aku berpikir keras menemukan jawaban bagi 'pertanyaan' ini. Lalu aku sampai pada sebuah kesimpulan (lupa tepatnya kapan). Kesimpulannya gini: "aku bersyukur di masa mudaku Dia mempercayakanku banyak hal dalam pelayanan. Walaupun aku belum banyak pengalaman tapi Dia mempercayakan pelayanan ini padaku. Pergi pagi, pulang malam: sungguh ini sebuah kesempatan emas. Mungkin suatu saat di masa tuaku atau setelah aku menikah nanti aku gak punya waktu sebanyak sekarang untuk melayaniNya. Jadi, saat ini selagi aku single, belum memikirkan siapa-siapa, masih belum terikat dengan siapa-siapa, dan memiliki waktu penuh untuk melayaniNya, aku rela, sungguh aku rela berada di kesibukan-kesibukanku yang padat saat ini. Dia menganggapku layak bahkan membuatku merasa tersanjung dengan menjadikanku parternya." So, guys kalau kamu saat ini sedang sibuk dengan jadwal pelayanan yang padat bersyukurlah, kamu mungkin gak akan mendapat kesempatan kayak ini lagi di masa depan. Ada kutipan indah mengenai ini: 'waktu terbaik untuk melayani Tuhan adalah waktu masa muda', kenapa? Karena setelah menikah, mungkin kamu akan sibuk mengurus keluarga, anak-anak dan kesibukan lainnya. 


Semangattt melayani, orang muda ^_^


 Oh ia aku mau cerita kenapa aku menulis lagi padahal sedang sibuk-sibuknya dengan jadwal yang padat. Ini berawal dari ajakan lebih tepatnya tantangan dari seorang teman juga kakak untuk menulis selama 31 hari ke depan. Pokoknya nulis apa aja, jadilah aku menulis lagi. Tadi sempat kepikiran pengen nulis apa terus aku ambil satu buku dari rak buku dan membacanya. Judulnya 'Kehidupan Yang Kreatif' dalam judul bahasa Indonesia, penulisnya Barry Chant. Tahu gak? aku baca halaman-halaman pertama buku ini di toilet loh tadi sore, wkwkkwkwkw. Entah mengapa, bagiku toilet itu tempat terbaik untuk membaca. Biasanya di sana aku lebih berkonsentrasi membaca apalagi semasa kuliah dulu, toilet adalah tempat belajar paling manjur. 
Oppsss..... ada saingan :p

Kembali ke buku tadi ya, aku ingin menceritakan bab pertama dari buku ini. Barry menulis di prolog mengenai 'Hidup Menurut Gambar Allah'. Ia mulai dengan mengutip Kej 1:26-27 "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Sangat jelas kita diciptakan menurut gambar Allah tapi bukan dalam arti fisik. Allah itu Roh, jadi ayat ini berbicara mengenai kualitas spiritual atau personal. Na, kata gambar biasanya digunakan untuk menyampaikan ide mengenai suatu refleksi, seperti seorang melihat dirinya sendiri dalam cermin. Sehingga ketika Allah menciptakan kita segambar dengan Dia, Dia ingin kita merefleksikan kualitasNya. 


Apa saja kualitas Allah?

1. Kemuliaan 
2. Penguasaan
3. Kreatifitas
4. Persatuan

Berhubung aku baru membaca bagian 1 dan 2 aku hanya akan bercerita tentang bagian satu aja dulu di postingan kali ini, bagian dua besok ya, biar besok ada bahan juga :p

Semoga belum bosan yaaaa ^_______^ rada teologis soalnya

1. Kemuliaan

Saat menciptakan manusia, Allah melengkapinya dengan perasaan mulia yang lebih besar dibandingkan makluk lainnya. Kalo ciptaan lain setelah diciptakan, Alkitab menyaksikan Allah berkata: 'baik' maka sesaat setelah menciptakan manusia Alkitab menyaksikan bahwa Allah berkata: 'sungguh amat baik' (coba deh periksa Alkitabmu di Kej 1:31). Cek juga Mazmur 8:6,7
'Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.' 

Jelas sekali Allah ingin kita menyadari bahwa kita ini diberi kemuliaan dan karena itu Allah mau kita bangga, berdiri tegak, dan tinggi dalam Dia. Karena hanya dengan memahami bahwa kita ini gambar Allah, maka kita menemukan perasaan harga diri baru yang sehat. 

Barry memberikan satu contoh kisah yang mampu menjelaskan hal ini dengan lebih baik: 
'Cliff adalah seorang pemuda yang masuk ke kolese di mana saya mengajar. Ia segera menarik perhatian, khususnya para gadis! Ia tinggi, berambut hitam dan tampan - pria impian para gadis. Jika kita mengetahui perasaan mulia, maka hal itulah yang dimiliki Cliff. Saya sangat terkejut mengetahui beberapa bulan kemudian bahwa Cliff pernah dikucilkan oleh masyarakat selama bertahun-tahun. Ia pernah menjadi pecandu narkoba, pecandu alkohol dan seorang yang berpindah-pindah tempat. Hidupnya tidak teratur dan acak-acakan. Pada suatu hari, ia bertemu dengan pemuda di jalanan dan kemudian duduk dengannya di sebuah bar hotel dan pemuda itu berbicara dengannya mengenai Kristus. Beberapa hari kemudian, pemuda yang sama itu datang ke flat milik Cliff dan menghabiskan beberapa jam memberitakan kabar baik. Hasilnya adalah Cliff memberikan hidupnya bagi Kristus. Pemuda asing itu tinggal sampai larut malam dan pulang sebelum Cliff bagun keesokan harinya. Cliff tidak mengetahui di mana pemuda asing itu sekarang. Tetapi kini ia menjadi seorang yang baru. Ia mempunyai perasaan mulia.'


Wow... luar biasa bukan??? Hanya dengan menyadari bahwa kamu ini mulia, hidupmu berubah. Kalo kita sadar kita ini mulia, gak ada yang bisa meremehkan kita, kita gak hidup lagi dalam pandangan yang salah (pandangan orang tentang kita) tetapi bagaimana Allah memandang kita. So, kalo kamu baca postinganku ini, tarulah tanganmu di dada dan katakan: "aku mulia karena gambar Allah jelas terpatri di dalam diriku."