Rabu, 23 April 2014

#Chapter4a Carilah Laki-laki Saleh



Haii... apa kabar? Berharap sih tulisan-tulisan dari buku #TheSacredSearch ini banyak yang membacanya. Kali ini kita memasuki bagian ke-4. Pembicaraan mengenai perempuan saleh dan laki-laki saleh. Tapi sebelum kita berpikir tentang pasangan hidup saleh seperti apa yang kita inginkan, ada kalimat yang bagus dari Gary dan memiliki harga mati untuk diterapkan, “bagian dari menemukan orang yang tepat untuk dinikahi adalah pertama-tama menjadi orang yang tepat itu sendiri.

  1. Kesalahan yang Memikat *carilah laki-laki saleh* è |catatan bagi perempuan|
         Kebanyakan perempuan lajang tidak mencari pasangan karena karakternya melainkan mencari lelaki yang dengannya ia merasa ‘jatuh cinta’. Ketika perempuan jatuh cinta, mereka akan memaafkan setiap kesalahan yang ada pada pacarnya untuk mempertahankan hubungan. Mereka dengan begitu cepat membenarkan perilaku buruk sang kekasih dan berjuang menjelaskan mengapa kekasihnya berlaku begitu. Hal yang justru akan sangat berbeda ketika sang kekasih yang berperilaku buruk itu berhasil dinikahi. Seorang istri akan memberitahu seluruh dunia betapa buruknya suaminya dan mencari simpati dari banyak orang karena ia harus hidup bersama dengan si brengsek seumur hidupnya.
         Bagaimana jika yang terjadi adalah kebalikannya? Seorang perempuan lajang dengan bijak berdiskusi sungguh-sungguh dengan sahabat-sahabatnya, keluarganya, mengenai kelemahan kekasihnya sehingga mampu membuat keputusan bijak. Lalu para istri mempertahankan sungguh-sungguh kehormatan suaminya sehingga menciptakan pernikahan yang abadi.
         Setiap perempuan menikah jika diberi kesempatan untuk menasehati perempuan lajang mereka pasti akan mengutarakan hal ini: “temukan seorang lelaki yang memiliki karakter kuat dan bertumbuh di dalam Tuhan serta mengejar kekudusan. Ini adalah karakter yang dinilai paling tinggi oleh para perempuan yang sudah menikah.” Namun justru disinilah letak kelemahan utama perempuan lajang, “ya... memang sih, tapi dia juga bla... bla... bla... nanti kan bisa berubah...”. terlalu banyak perempuan lajang meremehkan kelemahan karakter serius bahkan ketiadaan iman pacar mereka. Mereka menghabiskan begitu banyak waktu untuk menutup-nutupi kesalahan pacar dan berusaha agar kelemahan-kelemahan itu dapat diterima oleh sahabat-sahabat dan keluarganya. Pertanyaan pentingnya adalah: “apa hal yang paling kamu inginkan dari pasanganmu sepuluh tahun dari sekarang? Ketika sudah memiliki anak-anak, rumah, menjalani hidup bersama dan saat perasaan mabuk kepayang telah sirna?” pertanyaan ini hanya dapat dijawab oleh kita secara pribadi. Tanyakanlah ke dalam hati kita yang paling dalam.
         Empat kualitas seorang suami yang diidamkan seorang perempuan menikah adalah 1) seorang suami saleh, 2) memiliki selera humor, 3) menjadi seorang ayah yang terlibat penuh dengan keluarga, 4) memiliki etika kerja kuat. Tetapi justru kualitas ini menempati urutan terakhir dari kriteria yang dibuat oleh perempuan lajang. Urutan pertamanya adalah seorang laki-laki yang membuat perempuan klepak-klepak, terpesona pada lelaki pemimpi yang banyak impian ketimbang seorang pekerja yang berjuang mewujudkannya, atau chemistry seksual jangka pendeka daripada seseorang yang memegang kata-katanya dan menjalani cara hidup terhormat. Kalau kita sedang jatuh cinta, apa yang paling kita inginkan? Pasti seseorang yang membuat jantung kita berdebar-debar, tangan berkeringat, gairah seksual mendidih. Sementara perempuan menikah menginginkan agar suaminya adalah orang yang bisa diandalkan, yang selalu ada setiap hari baginya dan anak-anaknya, dan yang selalu mengisi rekening di bank tiap bulan.
         Kadang-kadang perempuan lajang juga sangat mudah terpikat oleh posisi sosial seorang lelaki *pelajaran bagi saya secara pribadiJ*. Mungkin ia kaya, pemimpin pelayan di gereja. Tapi kenyataannya adalah nantinya kita akan menikahi ORANG bukan POSISI SOSIAL. Beberapa orang justru kikir, yang menghabiskan waktu di gereja belum tentu adalah orang saleh. Karena itu, jangan ijinkan posisi sosial seseorang membuat kita tertipu dan tidak mengenal karakter pacar dengan serius.
         “... pilihlah ... orang ... yang penuh dengan Roh dan hikmat ...” (Kis 6:3). Ini adalah pemimpin yang ideal bagi sebuah rumah tangga. Orang yang dipenuhi Roh Kudus, yang hidup bagi Allah dan Allah hidup di dalam mereka, orang yang penuh hikmat. Kita tidak akan pernah menyesal jika membuat pilihan berdasarkan fondasi ini. Apakah ayat ini berlaku bagi pacarmu saat ini? Jika tidak, apakah kamu yakin ingin membangun sebuah keluarga bersamanya?

Senin, 21 April 2014

#Chapter3 Rentan dan Bodoh



Allah menciptakan otak kita dengan sangat unik dengan fenomena mabuk kepayang dan jatuh cinta. Kita bisa tergila-gila pada seseorang untuk jangka waktu yang cukup lama sekitar 12-18 bulan atau bahkan lebih. Namun biasanya fenomena ini hanya bertahan paling lama 2 tahun dengan intensitas yang tidak sama seperti sebelumnya. Allah memang tidak merancang otak kita untuk menyimpan hormon tergila-gila dalam jangka waktu lama.
Na, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang tergila-gila terhadap seseorang? Dr. Helen Fisher mengungkapkan beberapa fakta yang dapat membuktikan bahwa kita sedang tergila-gila:
*      Sang pencinta fokus pada sifat-sifat baik dari pihak yang dicintai dan meremehka atau menganggap enteng kelemahan-kelemahannya
*      Orang yang tergila-gila mengalami kelebihan energi, hiper-aktivitas, sulit tidur, fenomena impulsif, euforia, dan perubahan mood cepat
*      Salah satu atau kedua belah pihak mengembangkan perasaan mendalam untuk mendahulukan kepentingan dari pihak yang dicintai
*      Gairah di dalam hubungan ditingkatkan, bukan dilemahkan oleh tantangan; semakin hubungan dikecam, semakin gairah bertumbuh
*      Kedua bela pihak yang saling mencinta menjadi semakin bergantung secara emosional pada hubungan
*      Kedua pihak yang terlibat mengatur ulang prioritas demi mempertahankan kontak fisik sebanyak-banyaknya, empati begitu kuat sehingga mereka bahkan ‘rela mati demi kekasih’
*      Orang yang tergila-gila memikirkan kekasihnya pada tingkat obsesif
*      Hasrat seksual begitu kuat dan hubungan ditandai dengan adanya sikap posesif ekstrem
Banyak peneliti menyimpulkan bahwa ketika kita jatuh cinta, otak bekerja sedemikian rupa sebagai sebuah idealisasi dari seseorang yang kita cintai. Kita berfokus pada sifat-sifat baik (padahal banyak diantaranya mungkin imajiner) dan membutakan diri pada sifat-sifat buruk (padahal banyak di antaranya terlihat jelas bagi orang lain). Kita mengidealkan orang yang dicintai untuk membuatnya menjadi jenis orang yang diinginkan. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak berada dalam posisi yang sanggup membuat pilihan objektif jika semata-mata hanya mengandalkan perasaan. 

Ø  Tergila-gila pada perasaan tergila-gila

Seringkali jika mencintai seseorang, kita merasa bahwa setiap hal yang dibuatnya selalu benar di mata kita sehingga kita berkata: “dia sempurna, saya menyukai setia detail tentang dia, ia tidak memiliki kekurangan, justru apa yg menjadi kekurangannya menjadi benar di mata saya.” Hati-hati, disinilah titik rentannya. Jatuh cinta memang membuat seseorang memiliki tambahan energi luar biasa tidak peduli berapa usianya. Bahkan ada beberapa orang yang rela meninggalkan pekerjaan yang mapan, keluarga, rela menempuh perjalanan jauh untuk bertemu dengannya, bahkan ketika orang lain yang patut dipercaya tidak merasa yakin dengan orang yang kita cintainya. Ini yang disebut sebagai perasaan ‘tergila-gila’.  
Dr. Helen Fisher mengatakan lagi bahwa “cinta romantis itu memaksa dan sulit dikendalikan.” Lihatlah anak-anak muda yang dengan sangat mudahnya berkata: ‘rela mati demi cinta’ (ceileeehhhh....:p). Saat kita jatuh cinta hanya dua hal yang mampu memfokuskan pikiran kita: mendapatkan orang itu dan mempertahankannya. Otak tidak lagi dapat bekerja dengan baik untuk menilai secara objektif apakah orang itu pantas didapatkan atau layak dipertahankan. Disinilah peran orang-orang terdekat, keluarga dan sahabat. Kita sedang ‘tergila-gila’ sehingga tidak dapat berpikir objektif, yang kita lihat dari dia selalu ‘indah dan menawan’, jadi, adalah bodoh menolak mendengarkan pendapat orang terdekat kita yang tidak ‘sedang gila’ seperti kita. Kalau sudah begini, bukalah lebar-lebar telinga kita terhadap masukan orang terdekat dan bukalah mata lebar-lebar untuk melihat kekurangannya. Idelanya ketika kita siap berkomitmen dengan seseorang berarti kita siap hidup dengan kelebihan dan kekurangan yang ia miliki yang sudah diketahui sebelumnya.
Memutuskan untuk memulai kehidupan pernikahan dengan seseorang bukan juga perkara yang mudah. Ingat bahwa kita tidak dapat menikahi seseorang hanya karena alasan kita jatuh cinta padanya. Cinta pesona atau perasaan tergila-gila membutuhkan waktu paling tidak 2 tahun untuk menguji apakah orang yang sedang digilai adalah seseorang yang selama ini diidamkan. Kebanyakan perasaan tergila-gila bermuara pada sebuah keputusan yang gegabah. Disinilah diperlukan hikmat. Hikmat yang bersedia menunggu. Gary menulis begini:

“Setiap pembimbing pernikahan, bahkan, setiap orang menikah yang saya kenal – akan memberitahu anda bahwa jauh lebih baik kesepian dan masih lajang daripada kesepian dan sudah menikah. Obat bagi yang kesepian dan masih melajang hampir selalu lebih ringan dan lebih membawa harapan daripada bagi yang kesepian dan sudah menikah. Jika anda terburu-buru memasuki kehidupan pernikahan dan bangun di samping seorang pasangan yang membuat hidup menjadi sulit, anda masih harus tetap  hidup dengan kekecewaan yang sama hari demi hari. Alkitab tidak memberi klausa “upss.. aku terlalu buru-buru” bagi kita dalam hal pernikahan dan perceraian. Apakah anda memutuskan untuk tetap bersama seseorang yang tidak tepat hanya karena getaran romantis membuat anda begitu sulit melupakannya? Lalu menolak mengenal lebih jauh seseorang pribadi pasangan berkualitas luar biasa lainnya hanya karena anda tak bisa menunggu?” (p.35-36)

Jatuh cinta bagi seorang lajang adalah sesuatu yang harus dievaluasi, bukan seseuatu yang harus dituruti membabi buta. Jatuh cinta pada hakikatnya adalah obsesi otak yang sangat menyenangkan dan sangat nyata sekaligus bisa menjadi ilah palsu yang berbahaya.

Minggu, 20 April 2014

#Chapter2 Pengecualian Besar




Ayat Alkitab yang menjadi titik tolak dari bab ini dan keseluruhan buku ini adalah Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Ayat ini akan menjadi alasan utama mengapa setiap orang berniat untuk menikah. Gary Thomas mengulas hal ini dengan sangat jelas dalam sebuah kalimat yang perlu kita pertimbangkan dengan matang-matang: “mungkin jatuh cinta saja tidak cukup untuk memutuskan menikah dengan seseorang.” Mengapa? Kita harus menemukan sebuah alasan yang jauh lebih tinggi dari sekedar jatuh cinta. Ada orang yang begitu mudah memutuskan untuk menikah dengan seseorang hanya karena ia mencintainya dan sulit melepaskan hubungan itu dengan alasan yang sama meskipun ia harus menyaksikan pernikahannya hancur dan ia menjadi korban.  Gary memberikan sebuah contoh tentang seorang perempuan yang telah 2 kali gagal dalam pernikahannya dan sekarang juga melakukan kesalahan yang sama dnegan pria ke-3, yakni menikah hanya karena alasan bahwa ia mencintai laki-laki itu meski laki-laki tersebut adalah seorang pemaksa, sering mengucapkan kata-kata kejam dan 2x dalam seminggu membuat perempuan ini menangis. Namun, si perempuan mengungkapkan alasan mengapa ia masih tetap mempertahankan laki-laki ini karena ia mencintainya. Hal yang sama yang terjadi pada 2 suaminya sebelumnya, ia menikahi mereka karena ia mencintai mereka sebelum pada akhirnya setelah menikah ia mengetahui bahwa mereka adalah laki-laki brengsek, egois, pemarah dan bukanlah lelaki yang benar-benar ia impikan untuk menjadi suaminya. Itulah sebabnya, perasaan jatuh cinta dengan seseorang bukanlah alasan yang cukup untuk menikah, kita harus menetapkan standar yang lebih tinggi. Carilah sesuatu yang lebih.

Minggu, 13 April 2014

Banyak cara yang Ia punya

Seminggu yang lalu aku sakit. Typusku kambuh. Tapi meski kesakitan, aku bersyukur bisa sakit, berhenti sejenak dari kesibukan, menikmati hari libur di saat yang lainnya bekerja, boleh tidur sepanjang hari, berhenti memikirkan pekerjaan dan banyak tugas lainnya yang berteriak-teriak minta dikerjakan, memaklumi diri sendiri dan yang paling penting memiliki waktu bersama Tuhan dan diri sendiri. 

Minggu sebelumnya, teman baikku di kota Hati Beriman juga sakit, lewat bbm aku bilang ke dia kira-kira begini: "waktu sakit itu waktu istirahat, tandanya kalau tubuh kita memang ada batas kuatnya, meski harus terpaksa istirahat di saat ada begitu banyak tugas menanti, namun waktu sakit adalah waktu yang baik untuk merefleksikan semua kebaikan Tuhan yang mungkin jarang kita lakukan ketika sehat." Lalu beberapa hari kemudian aku jatuh sakit. Reaksiku? Kalimat di atas terngiang-ngiang di telingaku. Tidak ada sikap lain selain bersyukur bisa sakit meskipun sulit karena aku kesakitan (suhu badan mencapai 40 derajat, sakit kepala, susah tidur, dan badan lemas). 

Sebenarnya ada hal yang jauh lebih menarik dari sakitku kali ini. Sakit ini adalah salah satu konsekuensi dari sikapku yang menyerah terhadap keadaan. Meski tidak selalu begitu, tapi sakit fisik seringkali dipicu karena sakit mental. Aku mengalami tekanan luar biasa yang sulit kuatasi di dunia kerja (sekolah), entah karena tidak cocok dengan sistemnya, lingkungannya atau memang karena passionku bukan disitu, aku tidak selalu nyaman berada di sana. 2 minggu lalu adalah puncak di atas segalanya. Aku bosan, muak, dan merasa tak punya semangat menjalani 2,5 bulan ke depan. Aku merasa di depanku ada palang berat berwarna hitam yang membuat segalanya rumit dan berat. Aku ingin secepatnya mengundurkan diri dan pulang ke rumah (dalam arti yang sebenarnya), namun aku tidak dapat melakukannya. Aku orang yang tidak bisa begitu saja menyerah pada komitmenku. Di satu sisi aku ingin sekali menyerah, di sisi yang lain aku tidak dapat menyerah begitu saja. Lalu aku berpaling mencari pertolongan pada Tuhan. Merana, kecewa, tetapi tetap berharap juga. Hari-hari kujalani tanpa semangat, lalu badanku mulai lemas karena kehilangan tenaga dan semangat (penyebab semua ini masih karena perjuanganku untuk menyerah dan bertahan). Lalu saat mentalku benar-benar sakit dan fisikku tidak mampu bertahan karena semangatku merosot, penyakit dengan gampangnya menyerang tubuhku. Alih-alih menyesal, aku justru bersyukur, Tuhan menjawab doaku, memberiku waktu istirahat yang cukup. Meski sakit sama sekali tidak mahal, tapi aku bersyukur bisa sakit. Aku memang drop tenaga, semangat, dan kekuatan tetapi justru ini cara Tuhan memulihkanku. 

Perhatian dari keluarga ibu di rumah, jemaat, pendeta, dan anak-anak murid menjadi suntikan semangat tersendiri. Anak-anak murid datang dengan membawa puding buatan mereka yang membutuhka perjuangan. Mereka bilang: "miss kita capek banget, tapi kog yo senang??" Mereka tidak tahu, itu rahasia dan kekuatan cinta. Segala sesuatu yang dilakukan dengan cinta hasilnya selalu berbeda. Capek tapi bahagia. 

Aku istirahat total selama 5 hari. Aku bersyukur di hari terakhir aku sempat melakukan refleksi. Merefleksikan dan merenungkan semua kebaikan Tuhan. Cara Tuhan memulihkan semangat dan tenagaku, melembutkan hatiku. Aku tersanjung dengan cara Tuhan menungguku mengambil keputusan untuk melayaniNya, Dia dapat saja memaksaku namun kasih tidak pernah memaksa, betul? Dia melakukan cara paling lembut: Ia menunggu dengan sabar. Dan ini membuatku tersanjung. Bagiku, ini adalah sebuah pertobatan. Berbalik dari kepentingan diri, mimpi dan obsesi pribadi menuju impian dan kepentingan Tuhan. 

Banyak cara Tuhan memulihkan, salah satu dengan sakit.
Sekarang aku telah menjadi kuat kembali, aku sehat baik fisik dan mental
Luar biasa cara Dia memulihkan...






Temanggung, 14 April 2014

Selasa, 25 Maret 2014

He will be there...


Today I Will Walk with my hands in God

Today I will trust in Him and not be afraid
For He will be there, for He will be there
Every moment to share, on this wonderful day
He has made

Lagu ini memang kebanyakan dinyanyikan di resepsi pernikahan.
Aku tidak sedang ingin menikah ketika menyanyikan lagu ini
Tidak!
Aku sedang memutuskan sesuatu yang sangat besar untuk hidupku, masa depanku
Mundur ke belakang saat banyak orang bergerak lari maju ke depan
Mundur untuk belajar merendahkan diri di hadapan seseorang
Mundur untuk memilih sesuatu yang selama ini kuhindari
Berbalik arah dari impian dan cita-cita besarku selama ini 
Bergerak mundur dalam sadar untuk menjadi lebih rendah hati

Jalan di depanku tidak akan pernah mulus
Tidak mungkin tanpa tantangan
Belum tentu tanpa air mata dan pergumulan
Tantangan dan pergumulan adalah hal yang pasti untuk perjalanan ini
Namun aku menantang diriku lebih dari semua impian dan cita-cita besarku
Biar saja teman-teman bergerak maju sambil berlari
Aku akan baik-baik saja dengan berjalan mundur
Aku pasti akan baik-baik saja dengan pilihan ini

Aku tahu siapa yang aku pilih
Dan dia juga memilih aku
Meski akan banyak rintangan dan air mata
Meski banyak jalan penuh luka dan harus tertatih-tatih
Meski harus berurai air mata aku akan membuktikan pada diriku bahwa pilihan ini tak pernah salah dan tidak akan pernah salah

Ibarat menaiki anak tangga
Perjalanan mundur ini seperti mengulang sesuatu dari awal
Seperti memulai sebuah perjalanan dari anak tangga yang paling bawah
Tetapi bahwa ia yang kupilih ada disana bersamaku
Ia ada jauh di depanku untuk menungguku mencapai puncak
Ia ada tepat di sampingku untuk menggandeng tanganku dan memberi semangat
Ia ada tepat di belakangku untuk memberiku kekuatan saat aku lelah
Ia ada tepat di satu anak tangga di depanku untuk siap menerima tanganku kala aku mendaki naik
Ia ada di sana menemani perjalananku

Aku benar-benar hanya mau memilih jalan ini untuk membuktikan pada diriku bahwa ini bukanlah jalan kehinaan,
Ini adalah sebuah jalan kemuliaan

Masih dalam perjalanan 40 hari ini...
Tapi aku sudah mempunyai jawaban untuk pergumulan 40 hari ini

Terlalu banyak kita berdoa agar Tuhan menjawab doa kita
Kali ini aku berdoa agar aku yang menjawab doaku sendiri:
"with all my heart, I'm ready GKS... See you very soon"





Temanggung, March 26, 2014

Rabu, 05 Maret 2014

Is, saya pengen daftar vicarisss....

Beberapa hari yang lalu seorang saudari, sahabat, teman seperjuangan dari GKS meminta dukungan doa karena akan memasukkan lamaran untuk menjadi vicaris. Membaca pesan singkat yang ia kirimkan melalui SMS tak ayal membuat saya syok menatap HP. Vicaris? Bukankah teman saya ini sedang merencanakan melanjutkan studi ke S2? 

SMS ini mengganggu saya. Mengapa? Karena dari angkatan 2008 asal GKS yang berkuliah di FTeol hanya 3 orang (angka yang sangat jarang dan hebatnya kami bertiga perempuan semua). Salah seorang mendahului kami ke rumah Bapa pada awal tahun 2012 lalu. Ia pergi menyelesaikan tugas pelayanannya di dunia. Kini tinggallah saya dan teman saya ini yang sudah lulus dari FTeol 2-1 tahun yang lalu. Saya memilih tinggal di Jawa dan bekerja serta melayani di kota kecil yang dinginnya seperti Salatiga tapi tidak/belum senyaman Salatiga. Tetapi teman saya ini memilih pulang ke Sumba. Di sana ia jatuh sakit tetapi masih berencana untuk melanjutkan studi S2. Lalu entah bagaimana ia sembuh dan sekarang saya mendapat kabar bahwa ia akan melamar ke kantor Sinode GKS untuk menjadi VICARIS.

Pagi tadi ia kembali mengirimkan pesan. Ia sudah diterima sebagai Vicaris GKS dan ditempatkan di GKS Tenggaba. Membaca sms itu banyak perasaan bergejolak di hati saya. Senang, excited, wow, bahagia, dan satu perasaan aneh yang tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Mungkin perasaan itu adalah perasaan menghakimi dari dalam hati kecil saya => "kapan kamu akan menjadi vicaris?"

Sejujurnya saya sangat senang. Sebab teman, sahabat, saudari saya ditempatkan di gereja dimana di sana keluarga mama besar berkumpul. Gereja itu adalah kampung halaman mama. Menerima dia sama saja dengan menerima seorang anak perempuan seperti saya. Saya hanya sedikit kuatir dengan pertanyaan: "kenal nona ris?" "dia sudah selesai kuliah?" "oh, kenapa belum pulang jadi vicaris?" (saya berharap sih pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah ditanyakan). 

Bukan ini sebenarnya yang menyebabkan perasaan aneh di hati saya. Bukan. Perasaan itu adalah perasaan rindu sekaligus perasaan ego saya yang tidak/belum siap menjadi vicaris. Selain di sisi lain, saya benar-benar tergila-gila untuk studi lanjut, di sisi yang lain saya tidak benar-benar siap menjadi vicaris. Bukan Vicarisnya yang membuat saya tidak siap. Sebenarnya saya sedang tidak siap memikul salib. Saya tidak siap jika ditempatkan di jemaat pedesaan yang tidak mempunyai listrik dan sinyal. Saya tidak siap ditempatkan menjadi pendeta jemaat seumur hidup di satu jemaat apalagi jika itu di pedesaan. Bagaimana dengan keluarga saya? Bagaimana jika saya menikah? Anak-anak saya, bisakah mereka mengenyam pendidikan yang layak jika di desa? dan sejuta penolakan-penolakan lain.

Saya tahu, saya terlalu sombong. Saya lupa pada satu-satunya keinginan di hati saya dulu dan janji saya pada papa sebelum berangkat kuliah ke Jawa. Dulu saya berjanji untuk pulang dan menjadi pendeta. Namun sekarang untuk pulang saja saya bergumul terlalu banyak. Sampai di titik ini saya sadar memikul salib bukan perkara yang mudah. Itu sebabnya saya lebih memilih menghindari salib, memilih jalan yang lain yang lebih mudah. Sungguh menyedihkan.

"Salib memang lambang penghinaan sehingga tidak banyak orang mau menjadi hina karena memikul salib."

Begitu tulis saya di renungan persekutuan wilayah bulan ini. Dan saya tertegun ketika mengetik kalimat ini. Kalimat ini menggambarkan diri saya. Salib memang lambang penghinaan sehingga saya TIDAK MAU MENJADI HINA KARENA MEMIKUL SALIB.

Ya Tuhan..... 
Sementara banyak teman-teman seperjuangan saya berlomba-lomba menyerahkan diri melayani Tuhan, saya menghindar dari jalan ini. Alasannya adalah karena saya merasa ini jalan kehinaan. Saya tidak siap tertolak, tidak siap hidup sederhana, tidak siap dipakai Tuhan. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Tuhan... Saya sungguh-sungguh berharap setelah masa prapaskah ini saya benar-benar dapat memutuskan saya akan ke mana. 

Kalimat yang saya tulis di atas tidak berhenti di kalimat itu. masih ada lanjutannya: 


"Tetapi di sisi yang lain salib adalah lambang kemenangan, pemuliaan dan kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa salib dan kematian. Puncak kemenangan kekristenan justru terjadi di masa paling kelam yaitu di masa penderitaan. Salib dan kematian Yesus adalah puncak kemenangan orang Kristen. Tidak ada kebangkitan dan jaminan hidup kekal tanpa salib dan kematian."

Mengimani, melakukan dan mengikuti jalan salib inilah yang saya gumuli dan sedang perjuangkan selama 40 hari ini. Semoga saya dapat terus mengikut Dia. Berjalan terseok-seok... Langkah-langkah kecil... sampai kalimat memelas ini "is, saya pengen daftar vicaris..." dapat saya jawab dengan pasti "yuk..."


*postingan terjujur dari lubuk hati yang paling dalam*

NB: bagi sahabat terbaik saya, selamat melayani ya. terima kasih mengingatkan saya tentang hal ini

Kamis, 27 Februari 2014

Edisi ulang tahun

Yeiiiiiiiiiiiii............ 28 Februari 2014
So excited...
Meski berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya tanpa kehadiran teman-teman di Salatiga yang sekarang sudah tersebar ke seluruh Nusantara *cieee bahasanya* jadi menurutku tahun ini bakal sepi. Namun saya salah. 
Anak-anak murid kelas 5 yang sudah hampir sepanjang bulan ini menyanyikan lagu "happy b'day" saat masuk ke kelas mereka karena mereka gak tahu tepatnya tanggal lahirku
Jadilah ketika hari ini aku membagi-bagikan makanan pada guru-guru dan tante-tante di kantin mereka jadi tahu kalau ulang tahunku hari ini dan hebohlah satu sekolah *bahasanya... gak juga kalee*
Dan ternyata kelas 5B ini sudah menyiapkan kejutan bertahap
kejutan pertama dengan memanggilku paksa ke kelas mereka dan mereka menyanyi sekeras-kerasnya "selamat ulang tahun"


kelas 5b tapi sesi 2

Kelas 2 menonton dari luar dan mereka tak mau kalah, heboh-heboh di depan pintu, masing-masing balik ke kelas dan menyiapkan lagu, hihiihih 

Kelas 2

Kelas 2


Salah satu murid memanggilku untuk ke kelas 2, hihiihih 




Belum selesai ternyata di kelas 5b ada kejutan part 2, ini bagian intinya. Mereka sudah menyiapkan tart, ada seksi pemaksa, maksudnya yang memaksa saya harus ke kelas mereka. Jadilah, kejutan part 2






 
Tak lupa kadoanya...
Bengbeng adalah pemberian Fabe, anak kelas 2. Itu pasti bagian jajannya hari ini. Dia mau memberikannya untukku... #terharuuu

Butter cookiesnya adalah pemberian Putra, anak kelas 2 juga. Dia datang ke kantor dan berbisik: "miss ester katanya ultah ya?" "iya" "Tak kasih ini ya miss, selamat ulang tahun"
Dia mengeluarkan butter cookies dari saku celananya. Aku bertaruh ini juga pasti jajanannya hari ini. #terharuuu lagi

Kadonya adalah pemberian Nike, anak kelas 5B, motor dari semua kejutan dari kelas 5b. Isinya adalah hiasan salib dan dan anak berdoa. Pilihan yang bagus, mengingatkanku untuk rajin berdoa. 
kan,... aku selalu senang dengan pemberian....:)
Anak-anak ini membuatku hariku terasa sangat spesial, berasa jadi ratu sehari...
terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih 
anak-anak selalu menginspirasiiii
Selamat ulang tahun dirikuuu \(^_^)/