Senin, 12 Agustus 2013

CANDY LADIES

Candy Ladies itulah nama yang kami berikan bagi kos-kosan kami yang beralamat di Jl. Kemiri Candi. Awalnya sih nama kosannya Candi Putri tapi karena penghuninya manis-manis, kami sepakat menggantinya menjadi Candy Ladies \^_^/.  Nama ini cukup terkenal pemirsa… gak narsis sih cuma di kalangan saudara se-suku kosan-ku ini cukup terkenal dan bahkan beberapa kali dijadikan semacam basecamp. Oh ya, teman kosku semuanya berasal dari pulau yang sama, hehhehe jadi berasa di tempat asal kami.
Hampir 5 tahun aku habiskan di ‘rumah’ ini. Selain karena memang aku malas pindah-pindah, kosan ini sangat nyaman dan menyenangkan apalagi bapak kos yang super duper ramah, baik, bersahabat, rajin, suka menolong (pintar nabung juga kali ya, hehhehe). Kalau misalnya anak kos kesulitan mengenai sesuatu hal yang berkaitan dengan kos-kosan yakin deh dalam waktu paaaaling lama 1x24 jam semuanya beress. Gak pernah deh nemu orang apalagi bapak kos kayak bapak kosku ini yang kalo dimintai tolong langsung ninggalin pekerjaannya dan turun tangan menolong. Kurang lebih 5 tahun di Candy Ladies tapi belum pernah sekalipun aku beli bola lampu padahal lampu di kamarku sempat mati beberapa kali. Bisa ketebak kan kalo yang gantiin bola lampunya bapak kos? Salut deh pokoknya bapak kosku itu. Beliau pantas dijuluki bapak kos terbaik sepanjang sejarah (y). dan yang gak kalah pentingnya adalah tiap hari raya Idul Fitri Candy Ladies selalu kebanjiran makanan (kecuali tahun ini sih karena aku keburu pulang ke tempatku saat ini) jadi gak sempat deh nyicipin opor ayam dan ketupat buatan ibu kos.
Kosan ini hanya memiliki 10 kamar tapi kini dihuni 11 orang (minus aku hehehhe karena aku dah pindah). Suasana kosan yang sangat nyaman, menyenangkan, bersahabat dan saling berbagi di antara semua penghuninya. Hal yang paling kusukai adalah suasana nobar di ruang tamu, masak bareng, makan bareng, ngopi bareng di pagi hari dan yang paling jadi ciri khas adalah ‘perang sound’. Yang satu ini memang suasana yang paling kurindukan (walopun dulu waktu skripsi ini hal menjengkelkan karena gak bisa konsen nulis) tapi sekarang ini hal yang paling dirindukan. Kamar satu mendengdangkan lagu pop rohani (biasa aku, hihihihi) sekarang ada generasi penerusnya => Anggi (maklum anak teologi :p), kamar lainnya reggae, yang lainnya lagi jazz, pop, dan smuanya full music sampe bingung mau dengar yang mana. Kadang-kadang juga, di kamar musik diputar keras-keras tapi yang punya kamar malah nonton tv di ruang tamu, ckckckck. Inilah keunikan kosanku. Ini tampilan kosku jika dilihat dari depan, kelihatan seperti rumah sih J. Rumah yang selalu kurindukan bersama orang-orangnya ^_^
Berikut ini salah satu momen kanarsisanku bersama personil candy Ladies, foto diambil di ruang tamu, udah lupa tanggal berapa yang jelas sebelum bulan September 2011 karena rambutku masih panjang ^_^

Dan kalo foto di bawah ini adalah personil lengkap, diambil saat syukuran wisudaku. Ehh ada yang gak hadir ding, mama bunga, kak asty dan tetin. 


Yup. Beginilah kenarsisan kami di Candy Ladies. Kadang-kadang aku bertanya-tanya, apa sih yang aku senang banget pulang Salatiga? Harusnya gak ada alasan loh, kerjaan? Gak ada. Pacar? Boro-boro. Hal penting lainnya? Gak juga. Terus apa dong??? Harus diakui, rumahku ini yang kurindukan. Candy Ladies bukan sekedar kosan tapi rumah bersama, disitu kenyamanan tercipta, penerimaan dan pengakuan. Sebab hal utama yang paling dibutuhkan seseorang dalam sebuah rumah ketika pulang dari pekerjaan/petualangan yang melelahkan di luar rumah adalah kenyamanan, penerimaan, dan pengakuan. Gak ada gunanya punya rumah mewah kalo kita gak nyaman disana, gak ada gunanya rumah besar kalo kita gak diterima disana, gak ada gunanya rumah indah kalo keberadaan kita gak diakui disana. Kurasa aku sudah bisa menjawab pertanyaan: kenapa aku senang banget tiap kali pulang ke Candy Ladies? Yup. Karena itu rumahku. Disana kutemukan kenyamanan, penerimaan, pengakuan bahkan kasih mesrah dan keakraban. Rumah bukan sekedar tempat berteduh tapi tempat persembunyian sekaligus pemulihan kekuatan dikala banyak masalah yang dihadapi di luar rumah, tempat dimana kita berhenti berpura-pura dan leluasa menjadi diri kita sendiri. Aku kangen Candy Ladies karena aku belum menemukan suasana ‘rumah’ di tempat baru di kota baru ini. Tulisan ini sukses buat aku kangen sejadi-jadinya pada rumahku di Sumba dan rumah Candy Ladies. Btw, tengkyuu teman2 Candy Ladies, tengkyuu bapak kos, dan tengs dobel2 Tuhan :*

Yesus Dalam Pandangan Orang Sumba


Tulisan ini merupakan tugas akhir mata kuliah Kristologi, hehehh masih merupakan mata kuliah yang diampuh dosen favorit saya sekaligus yang nantinya menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Tulisan ini ditulisan sekitar awal Desember 2010. Menyenangkan memang bisa menulis sesuatu tentang kampong halamanku ^_^. Semoga bermanfaat

“Yesus bagi Orang Kristen dan Orang Marapu”
1.     Pendahuluan
            Makalah ini akan menjelaskan pandangan orang Sumba terhadap Yesus khususnya Yesus dalam balutan budaya Sumba bagi orang Kristen Sumba dan pemahaman masyarakat berkepercayaan Marapu (orang Marapu) terhadap Yesus. Pemahaman akan siapa Yesus menurut beberapa pandangan kristologi akan menjadi dasar pemikiran untuk memahami Yesus dalam kaitannya dengan pemahaman orang Sumba terhadap Yesus yang memungkinkan sebuah model pemahaman baru versi orang Sumba. Pada bagian akhir dari makalah ini akan diberikan kesimpulan Yesus dalam pandangan orang Sumba baik orang Kristen maupun orang Marapu.
2.     Batang Tubuh
            Berdasarkan hasil wawancara saya dengan ayah saya sendiri, ada 2 poin penting yang akan dikemukakan, pertama, Yesus dalam pandangan orang berkepercayaan Marapu adalah pribadi yang tidak jauh berbeda dengan Marapu. Mereka mengakui kekuasaan Yesus tetapi lebih percaya kepada Marapu, karena Marapu juga sanggup memberikan berkat kepada mereka. Tujuan penyembahan adalah kepada Ilah Tertinggi (Allah) dimana Marapu dan Yesus sebagai perantara kepada Ilah Tertinggi (Allah) tersebut sehingga yang terpenting bukan perantara tetapi tujuan kepercayaan tersebut. Kedua, Yesus dalam pandangan orang Kristen Sumba adalah Tuhan yang kaya akan budaya dan jauh lebih besar dari Marapu. Ia dapat menyesuaikan diri dengan konteks suatu masyarakat tertentu, hidup dalam kebudayaan Sumba dan menjadi Tuhan milik semua budaya. Tidak lagi sebagai Yesus orang Yahudi dan Yesus orang Barat yang diperkenalkan Injil ketika pertama kali datang ke Sumba melainkan sebagai Yesus orang Sumba, milik orang Sumba dalam balutan budaya dan adat Sumba.
            Yesus adalah seorang Yahudi yang hidup dalam tradisi Yahudi dan besar dengan tradisi ini. Ia belajar agama Yahudi sejak kecil, menguasai ilmu agama Yahudi dengan baik dan memulai pelayanannya ketika dewasa. Ia turut ambil bagian dalam kegiatan religiusYahudi. Ia pakar dalam hal keagamaan dan  memulai pelayanannya di padang gurun seperti dilakukan oleh nabi-nabi pada umumnya.
            Pengajaran-pengajaran yang disampaikan Yesus melalui ucapan dan perbuatan. Apa yang Ia sampaikan Ia dipraktekkan dengan perbuatan sehingga hal ini membedakan Yesus dari nabi-nabi yang lain. Ia memanggil sendiri murid-muridNya dan memperlengkapi mereka dengan kecakapan dan kuasa untuk memberitakan kabar baik. Yesus melayani semua orang tanpa melihat status social dan tradisi Yahudi yang amat keras terhadap orang-orang yang memiliki penyakit tertentu. Yesus melakukan tindakan pembebasan terhadap aturan-aturan agama yang mengikat dan menindas. Yang terakhir Yesus melakukan mujizat dan kemampuan Yesus melakukan mujizat ini menurut Borg adalah karena Yesus merupakan manusia Roh lintas budaya yang datang pada komunitas manusia pada saat ini.[1]
            Pelayanan yang dilakukan Yesus selalu memihak pada orang-orang yang termarginalkan dalam masyarakat, berpihak pada orang-orang yang tidak dianggap dalam masyarakat, yang dikucilkan, dan orang-orang kecil.[2] Yesus melayani keluar dari batas-batas tradisi yang ada. Tradisi tidak dapat dibenarkan apabila menghalangi orang untuk berbuat kebaikan bagi orang lain.
            Setelah disalibkan, bangkit dan naik ke Surga, komunitas Kristen perdana menghayati karya pelayanan Yesus dan memberikan gelar-gelar kepada Yesus. Gelar-gelar tersebut adalah nabi, Tuhan, Mesias, Anak Allah[3]. Dalam penghayatan ini gelar-gelar yang diberikan ini kemudian menjadi nama diri Yesus. Gelar-gelar ini sejak zaman komunitas Kristen perdana menjadi dasar berpijak kristologi bagi para pengikut Yesus maupun orang yang tertarik mengenalNya lebih dalam. Penghayatan komunitas perdana memiliki peran yang amat besar dalam menentukan dasar pijakan kristologi sebab sebagian besar data-data yang dibutuhkan untuk kepentingan kristologi ini terekam dalam penghayatan iman komunitas Kristen perdana.
            Gelar Yesus sebagai Tuhan dan Anak Allahlah yang paling nyata dirasakan oleh orang Kristen masa kini dalam membangun sebuah kristologi. Gelar Tuhan yang diberikan kepada Yesus berdasarkan keempat injil mengacu pada kepentingan penulis masing-masing Injil. Matius dan Markus menyebut Yesus Tuhan karena Yesus mampu mengadakan mujizat-mujizat. Lukas menyebutNya Tuhan terkait dengan peranNya sebagai guru dan pemuka agama. Secara umum gelar Tuhan mengaitkan Yesus dengan dua perang ganda sebagai seorang Hasid (orang suci) kharismatis dan guru (orang bijak).[4] Akan tetapi dalam bahasa aram kata untuk Tuhan adalah mare yang digunakan baik untuk Tuhan maupun untuk manusia.[5] Bagaiamanapun kata Tuhan dipahami oleh orang-orang sezaman Yesus dan jemaat perdana pada awal perkembangan kekristenan, pemakaian gelar Tuhan untuk Yesus saat ini mengalami perbedaan makna. Yesus adalah Tuhan atas seluruh bumi, yang memiliki kuasa atas alam semesta.
            Gelar Anak Allah yang diberikan kepada Yesus menurut Harvey menunjukkan bahwa Yesus sepenuhnya bergantung kepada dan satu dengan Bapa, menurut Borg gelar Anak Allah dipakai dalam tiga konteks dalam masyarakat Yahudi yang menggambarkan suatu hubungan dengan Allah yang istimewa akrab, yaitu dalam hubungan Israel sebagai umat pilihan, raja sebagai manusia yang diangkat menjadi anak Allah dan tokoh berkharisma sebagai orang yang mengenal dan dikenal oleh Allah.[6] Konteks gelar yang terakhir cocok jika dihubungkan dengan sebutan Yesus sebagai orang suci kharismatis.
            Tentunya orang awam memahami Yesus sebagai Anak Allah tidak dalam kerangka pemahaman  seperti ini. Orang awam lebih cenderung memahami Yesus sebagai Anak Allah dalam pemahaman Yoh 1:14, bahwa Yesus berasal dari Allah. Yang jika ditelusuri lebih lanjut pemahaman ini akan menghantar pada sebuah pemahaman lagi bahwa Yesus sejajar dengan Allah.
            Gelar-gelar ini paling banyak mendapat perdebatan. Akan tetapi dua gelar inilah yang paling berakar kuat dalam tradisi kekristenan dan menjadi hal utama yang ditawarkan kekristenan ketika diperkenalkan kepada bangsa lain yang sampai saat ini masih menjadi pokok sentral dalam kekristenan. Hal yang sama juga terjadi di Sumba ketika kekristenan ditawarkan kepada orang Sumba. Pada makalah ini gelar Yesus sebagai Tuhan akan lebih mendapat perhatian.
            Gagasan akan gelar Yesus sebagai Tuhan dan Anak Allahlah yang membuat masyarakat Sumba bersedia menerima Yesus dan kekristenan. Yesus yang diperkenalkan adalah pribadi yang memiliki tidak saja kuasa yang melebihi Marapu yang selama ini dikenal oleh orang Sumba tetapi juga pribadi yang dapat menjadi sosok lain seperti sahabat, Bapa, kekasih, dan pribadi yang sangat dekat dengan mereka yang mengenalNya. Dalam konsep pemahaman yang seperti inilah Yesus menjadi lebih mudah diterima oleh orang Sumba.
            Yesus yang dalam keberadaanNya sebagai Tuhan dan Anak Allah telah membawa sebuah pemahaman baru bagi orang Sumba mengenai Allah yang mau menjangkau dan memperkenalkan diriNya bagi orang-orang lain di luar Yahudi. Oleh sebab itu, Yesus yang telah hadir dalam konteks masyarakat Sumba ini dimaknai orang Sumba sebagai Yesus milik orang Sumba. Dan sebagai milik Ia dikenakan atribut-atribut orang Sumba yang menandakan bahwa Ia milik orang Sumba. Atribut-atribut ini nyata dalam ikon-ikon yang ada dalam masyarakat Sumba sebagai gambaran Yesus yang menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat Sumba. Ikon-ikon ini terlihat dalam patung Yesus di depan Gereja Katholik Sang Penebus Waingapu yang menggunakan pakaian adat Sumba (kalabo), kain-kain tenun Sumba dengan motif gambar Yesus. Penggambaran Yesus dalam ikon-ikon ini tidak bermaksud mengurangi ciri khas Yesus sebagai seorang Yahudi tetapi hanya untuk menunjukkan bahwa Yesus telah menjadi milik orang Sumba dan dipahami dalam konteks dan budaya masyarakat Sumba. Masyarakat Sumba yang dimaksud di sini adalah mereka yang telah percaya kepada Yesus dan menjadi Kristen.
            Dalam kerangka pemahaman seperti ini maka apa yang kita temukan dalam masyarakat Sumba bersesuaian dengan definisi kristologi yang mengalami revisi dari penelitian tentang siapa Yesus Kristus dengan cara meneliti ajaran-ajaran Perjanjian Baru secara sistimatis (Gutrie) menjadi usaha memahami Yesus Kristus menurut pengalaman komunitas Kristen awal sampai pada masa kini dalam pelbagai budaya serta serta dalam perjumpaannya dengan konteks aktual kekinian dalam keragaman perspektif teologis, budaya dan agama tempat komunitas Kristen berada dengan memanfaatkan kontribusi ilmu-ilmu yang relevan.[7]
            Dari definisi di atas jelaslah bahwa pemahaman tentang Yesus tidak berhenti hanya pada komunitas awal kekristenan tetapi masih merupakan isu yang relevan sampai saat ini. Perjumpaan Yesus dengan masyarakat Sumba berikut pengalaman bersama Dia dalam perjumpaan dengan budaya merupakan bagian dari usaha manusia dalam hal ini masyarakat Sumba mengenal dam memahami Yesus.
            Dalam usaha mengenal dan memahami Yesus, latar belakang masyarakat sangat berpengaruh pada usaha ini. Latar belakang masyarakat Sumba sangat berkaitan erat dengan kebudayaan yang sekaligus menjadi kepercayaan masyarakat Sumba, yaitu kepercayaan terhadap Marapu. Marapu dipercaya mempunyai kekuatan dan kuasa untuk mengabulkan permohonan masyarakat apabila Marapu disembah dengan baik oleh masyarakat dan akan menghukum jika tidak disembah. Konsep kepercayaan seperti ini sangat mendasar kuat dalam diri masyarakat Sumba dan menjadi acuan pemahaman ketika ada pengaruh baru yang masuk.
            Pengenalan akan Yesus mengubah konsep berpikir semacam ini. Yesus dalam keberadaanNya sebagai Tuhan dan Anak Allah selalu tetap menjadi pribadi yang baik walaupun manusia tidak taat kepadaNya. Dia pribadi yang dapat mengerti keadaan manusia karena Dia sendiri menyesuaikan diri dengan keadaan manusia. Marapu tidak dapat berbuat demikian. Karena Marapu hanyalah roh nenek moyang yang juga dianggap oleh manusia memiliki kekuatan setelah meninggal dan dipercaya bahwa Marapu menjadi perantara kepada Ilah Tertinggi tetapi tetap dalam pemahaman bahwa Marapu memiliki kuasa karena diberikan oleh manusia meskipun dengan begitu kita juga mengesampingkan bahwa Yesus pun dibangun dengan kristologi oleh pemahaman dan penghayatan manusia terhadap karya pelayananNya semasa hidup.
            Sebagai hasil dari usaha memahami dan mengenal Yesus lahirlah suatu gambaran tentang Yesus yang dapat disebut Yesus kontekstual. Yesus dalam balutan budaya Sumba, Yesus yang dekat dengan masyarakat Sumba. Tidak lagi sebagai orang Yahudi tetapi sebagai orang Sumba yang hidup dalam konteks aktual masyarakat Sumba dan bersinggungan dengan budaya Sumba.
            Lebih jauh mengenai pemahaman di atas maka jika Yesus dapat menyesuaikan diri dengan konteks masyarakat Sumba tentulah Ia pun dapat masuk dan beradaptasi dengan budaya lain. Masyarakat lain pun akan mengalami pengenalan dan pemahaman terhadap Yesus sehingga dengan demikian Yesus menjadi Tuhan yang kaya akan budaya. Pemahaman ini memungkinkan munculnya sebuah kristologi baru mengenai Yesus dari budaya Yahudi ke budaya Sumba. Kristologi yang mendasarkan pemikiran tidak saja terhadap Yesus yang adalah manusia tetapi juga sebagai Tuhan yang terhadapNya masyarakat Sumba berusaha membangun pemahaman tentang makna kehadiran Yesus bagi mereka dalam setiap pengalaman hidup dan bagaimana perjumpaan Yesus dengan budaya mereka. Sebagai manusia Ia menyesuaikan diri dengan budaya Sumba dan memahami masyarakat Sumba sebab Ia pernah menjadi manusia yang dibesarkan juga dalam sebuah tradisi, yaitu tradisi Yahudi dan sebagai Tuhan Ia dapat hadir sebagai Tuhan yang dapat dipahami oleh masyarakat Sumba sesuai dengan cara paham orang Sumba dan lebih jauh dari pemahaman ini dengan mempertimbangkan bahwa ada banyak budaya dan tradisi dalam konteks masyarakat lain di luar konteks masyarakat Sumba maka tentulah Yesus adalah Tuhan yang kaya akan budaya. Ia muncul dalam berbagai potret budaya masyarakat. Sebab bukankah kristologi yang selama ini berkembang juga dibangun berdasarkan tradisi Yahudi dan tradisi dimana Yesus berusaha dipahami dan dikenali? Jadi orang Sumba pun dapat membangun sebuah kristologi yang berusaha memahami Yesus Kristus mulai dari pengalaman komunitas awal sampai pengalaman dan perjumpaanNya dengan masyarakat Sumba dan konteks masyarakatnya.
            Berbeda halnya dengan masyarakat Sumba berkepercayaan Marapu (selanjutnya disebut orang Marapu). Orang Marapu tidak dapat membangun kristologi semacam itu. Mereka hanya melihat Yesus dari jauh dan tidak berjumpa dengan Dia. Sebab itu mereka tidak memiliki pengalaman bersama Dia. Akan tetapi dalam perjumpaan mereka dengan sesama masyarakat Sumba yang telah menjadi Kristen, mereka pun dapat bertemu dengan Yesus. Perjumpaan semacam ini membawa mereka pada sebuah pengakuan bahwa Yesus benar punya kuasa. Benar bahwa Dia adalah Tuhan yang baik bagi orang Kristen dan yang dapat melakukan apa saja sehingga berbeda dengan Marapu yang suka menghukum jika tidak disembah dengan  baik. Tetapi pengakuan ini hanya sebatas pengakuan.  Orang Marapu lebih memilih mempercayai Marapu dari pada Yesus. Marapu lebih dekat dengan budaya Sumba karena Marapu adalah roh orang Sumba sendiri.
            Selain itu, alasan orang Marapu tetap setia pada Marapu didasarkan pada konsep pemahaman bahwa tujuan penyembahan dan tujuan akhir dari segala upaya orang Marapu dan orang Kristen adalah satu dan sama, yaitu Ilah Tertinggi yang dalam Marapu disebut Anatala dan dalam Kristen disebut Allah. Sifat dan pemakaian nama ini dalam tradisi Yahudi dan Sumba memiliki persamaan. Anatala dipandang keramat sehingga tidak dapat disebut sembarangan. Orang yang menyebutnya secara sembarangan akan tertimpa malapetaka sebab nama ini memiliki kekuatan magis. Nama ini hanya boleh disebut oleh imam Marapu dalam suatu ritus keagamaan yang disebut Upacara Perjamuan Dewa (Pamangu Ndewa) yang diadakan setiap delapan tahun dan disebutkan secara berbisik oleh Imam pada tengah malam tanpa seorang pun boleh mendengarnya.[8] Konsep pemahaman nama Anatala ini amat mirip dengan konsep pemahaman nama Allah (YHWH) dalam tradisi Yahudi. Nama YHWH suci dan tidak boleh disebut sembarangan. Hanya boleh disebut oleh seorang orang kudus (imam) pada hari yang kudus (Hari Perdamaian) di tempat yang kudus, yakni Ruang Maha Kudus dalam Bait Allah. Atas pemahaman ini maka paling tidak kita dapat katakan bahwa Ilah tertinggi yang disembah oleh orang Marapu dan Orang Kristen adalah sama (meskipun ketika orang Marapu mengatakan Ilah Tertinggi yang sama mereka tidak sedang berada konsep pemahaman bahwa nama Ilah Tertinggi dalam Kristen adalalah YHWH).
            Pemahaman mengenai Allah yang satu dan sama inilah yang mendasari kesetiaan orang Marapu terhadap Marapu. Tujuan orang Kristen dan Marapu sama, yang membedakan hanyalah perantara untuk sampai kepada Ilah Tertinggi. Perantara orang Marapu adalah Marapu sedangkan perantara orang Kristen adalah Yesus Kristus (meskipun orang Kristen sendiri memahami Yesus lebih dari sekedar perantara). Sehingga atas pemahaman seperti ini mereka merasa tidak perlu lagi menjadi Kristen dan percaya pada Yesus. Yesus bagi orang Kristen. Marapu bagi orang Marapu.
            Yesus dalam pemahaman orang Marapu sekalipun Dia diakui sebagai Tuhan orang Kristen dan memiliki kuasa yang besar Yesus tetap hanyalah seorang perantara sama seperti Marapu. Yesus tidak memiliki arti penting bagi orang Marapu. Bagi mereka, Dia bukanlah Tuhan yang kaya akan budaya seperti yang dipahami dan diyakini oleh orang Kristen Sumba.
3.       Kesimpulan
            Dari penjelasan mengenai Yesus bagi orang Kristen dan orang Marapu di atas maka kita dapat menarik kesimpulan mengenai pemahaman orang Sumba terhadap Yesus. Bagi orang Kristen, Yesus adalah Tuhan dan Anak Allah yang datang menjumpai masyarakat Sumba, memberi diri dikenal dan dipahami oleh orang Sumba sesuai dengan pola pemahaman orang Sumba, dijadikan milik orang Sumba dengan mengenakan atribut-atribut kebudayaan pada Yesus. Berangkat dari pemahaman bahwa Yesus dapat masuk menjadi Yesus orang Sumba dan bersinggungan dengan budaya maka orang Kristen Sumba berpendapat bahwa di tempat lain dalam konteks budaya yang berbeda Yesus pun dapat menjadi bagian dari koteks masyarakat tersebut sehingga Yesus yang dikenal dan dipahami orang Sumba adalah Tuhan yang kaya akan budaya.
            Bagi orang Marapu, Yesus hanya sebatas Tuhan orang Kristen yang juga diakui kekuasaanNya tetapi tidak disembah dan dipercayai. Marapulah yang menjadi sentral hidup mereka. Mengacu dari pemahaman tujuan beragama adalah Ilah Tertinggi dengan perantara yang berbeda-beda maka Yesus tidak memiliki arti bagi mereka. Yesus akan tetap menjadi Tuhan orang Kristen yang juga mereka akui kekuasaanNya. Sehingga Yesus bagi orang Marapu adalah Tuhannya orang Kristen sedangkan Yesus bagi orang Kristen Sumba adalah Tuhan yang kaya budaya. Bagi orang Sumba Yesus adalah Tuhan bagi orang Kristen.



[1] Marcus J Borg. Kali pertama jumpa Yesus Kembali : Yesus sejarah dan hakikat iman Kristen masa kini. (Jakarta: Gunung Mulia, 2003) 42
[2] Markus J. Borg, ibid
[3] A. Roy Eskardt. Manggali Ulang Yesus Sejarah. (Jakarta: Gunung Mulia, 2006) 25-32
[4] A Roy Eskardt. Ibid. 29
[5] Yusak B. Setiawan. Christology in Context. A draft
[6] A. Roy. Ibid. hal 35
[7]Yusak B. Setiawan. ibid
[8] F. D. Wellem. Injil dan Marapu. (Jakarta : Gunung Mulia, 2004) 42-43

KISAH SENGSARA YESUS DALAM INJIL SINOPTIK

“Tulisan ini merupakan tugas laporan bacaan dari buku Kisah Sengsara Yesus Dalam Injil Sinoptik. Hehehhehe dosenku yang berinisial YBS itu memang suka sekali memberikan kami tugas laporan bacaan. Dia dosen yang kukagumi sih, pinter, cakep, keren pula kalo ngajar. Intinya aku sangat menikmati isi buku ini karena tugas dari dosenku itu ^_^. Semoga bermanfaat ya…..”


Identitas buku
Suharyo, I. 1990. Kisah Sengsara Yesus Dalam Injil Sinoptik. Yogyakarta: Kanisius. 92 hal.
1.           Autobiografi penulis
Mgr. Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo lahir pada tanggal 9 Juli 1950 di Brosot, daerah Istimewa Yogyakarta putra Bp. Florentinus Amir Hardjodisastra (alm) dan Ibu Theodora Murni Hardjodisastra. Berasal dari 10 bersaudara, 3 puteri, dan 6 putera, dan yang satu meninggal dunia. Dari 6 putera tersebut, yang  jadi imam 2 orang, yaitu Rm. Suitbertus Sunardi, OCSO (Rawaseneng) dan Rm. I. Suharyo, Pr. Dan dari 3 puteri, dua orang menjadi suster, Sr. Marganingsih dan Sr. Sri Murni. Pada tahun 1968 Ignatius Suharyo mulai mengolah panggilan sebagai imam di SMA Seminari Mertoyudan (Magelang). Seusai berstudi tingkat SMA, beliau melanjutkan studi di IKIP Sanata Dharma (Yogyakarta). Pada tahun 1971 beliau mencapai tingkat Sarjana Muda Filsafat/Teologi, kemudian tahun 1976 mencapai Sarjana Filsafat/Teologi (S1) pada FKSS IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Studi terakhir beliau selesaikan hingga mencapai tingkat Doktor Theologi Biblicum di Universitas Urbaniana (Roma, Italia) pada tahun 1981. Imam dalam Keuskupan Agung Semarang. Dosen tetap pengantar dan ilmu tafsir Perjanjian Baru pada Fakultas Teologi Wedabhakti, Yogyakarta. Guru Besar Ilmu Theologi Univ Sanata Dharma, Yogyakarta.
2.           Thesis/ ide pokok
Ide pokok Suharyo tulisan ini adalah memaparkan kisah sengsara Yesus dalam injil-injil sinoptik dalam sebuah kisah sengsara yang lengkap dan menarik sehingga pembaca semakin memahami dan menghayati sengsara dan wafat Yesus Kristus.
3.           Argumentasi penulis
Argumentasi penulis akan dipaparkan per bab :
1)        Kisah sengsara dalam kehidupan gereja
Ø   Kisah sengsara adalah kekayaan rohani dalam kehidupan gereja yang mampu menerangi dan memberi makna kepada perjuangannya dalam peziarahan hidup.
Ø   Kisah sengsara yang dikisahkan oleh masing-masing penginjil terutama merupakan pewartaan iman yang penggarapan dan pengembangan kisahnya ditentukan oleh ketersediaan bahan-bahan dalam lingkungan rasuli tertentu dan jemaat yang dituju.
Ø   Dalam kerangka pemahaman bahwa masing-masing penginjil mengisahkan kisah sengsara Yesus dengan penekanan-penekanan tertentu maka kita dapat melihat hal yang masing-masing disoroti penginjil :
v  Markus berciri pewartaan. Kisah sengsara yang dikisahkan mau membawa orang kepada iman dan penyerahan diri kepada misteri kasih Allah
v  Matius berciri doktrinal. Kisah sengsara Yesus bila dilihat dalam terang iman gereja adalah penggenapan rencana Allah yang terdapat dalam Kitab Suci
v  Lukas berciri permenungan seorang murid tentang gurunya. Usaha sang murid untuk menyatakan bahwa junjungannya, yaitu sang guru tidak bersalah sehingga hal-hal yang merendahkan martabat sang guru dihilangkan dalam kisahnya.
2)        Yesus ditangkap
Ø  Keputusan untuk menangkap dan menghukum mati Yesus adalah puncak dari konflik berkepanjangan Yesus dengan kelompok orang Farisi, Saduki dan Herodian. Dan Yudas, murid Yesus membantu proses penangkapan ini.
Ø  Kesaksian masing-masing penginjil :
v  Menurut Markus, peristiwa ini mengejutkan karena tanpa keterangan tentang peristiwa-peristiwa sebelumnya tiba-tiba Yudas datang dan mencium Yesus lalu Yesus ditangkap. Tidak ada keterangan tambahan yang menyertai peristiwa-peristiwa penangkapan ini.
v  Matius memahami peristiwa penangkapan ini sebagai bagian dari rencana penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Bahwa penyelamatan itu terjadi hanya oleh jalan perendahan. Dan hal ini yang dipilih Yesus.
v  Yang menjadi pusat perhatian Lukas dalam kisah ini adalah Yesus, Anak Manusia yang melalui sengsara dan wafat masuk ke dalam kemuliaan. Yesus yang adalah Tuhan yang mampu menyatakan kuasa dan belas kasih kepada orang yang datang menangkapnya.
Ø  Keutuhan kehendak Yesus untuk menjalani rencana Bapa adalah hal yang paling jelas dari kisah ini.
3)        Di hadapan Mahkamah Agama
Ø   Masing-masing penginjil memiliki kronologi kisah yang berbeda-beda berkaitan dengan sidang Yesus di Mahkamah Agama. Matius dan markus mencatat sebanyak dua kali sidang pada malam hari dan siang hari. Lukas hanya mencatat satu kali dan terjadi pada siang hari. Jika dibandingkan dengan injil Yohanes maka kita dapat menyimpulkan bahwa pada malam hari setelah Yesus ditangkap langsung ada pemeriksaan oleh Hanas. Akan tetapi sidang ini tidak resmi. Lalu pada keesokan harinya terjadi Sidang oleh Mahkamah Agama (Sanhedrin) yang adalah sidang resmi yang dipimpin oleh Kayafas sebagai imam besar.  
Ø   Kisah penyangkalan Petrus dikisahkan dengan kekayaan cerita berdasarkan tradisi yang kuat namun di antara para penginjil kisah ini berbeda-beda karena dikelola menurut minat teologinya masing-masing.
Ø   Dalam sidang-sidang yang ada Yesus diolok-olok terkait dengan kedudukannya sebagai seorang nabi (pemimpin religious) dan sebagai seorang raja. Ia dipukul, diludahi, ditinju. Olok-olok sebagai seorang nabi terjadi pada sidang Mahkamah Agama sedangkan olok-olok sebagai raja terjadi pada sidang Pilatus sehingga bernuansa politis.
Ø   Sidang yang berlangsung oleh Mahkamah Agama adalah sidang resmi. Sidang ini terdiri dari pengajuan saksi-saksi dan dialog antara imam besar dengan Yesus. Akan tetapi saksi-saksi yang diajukan adalah saksi-saksi palsu yang kesaksiannya berbeda satu dengan yang lainnya. Kesaksian ini diberikan dengan tujuan hukuman mati terhadap Yesus dapat dijalankan. Akan tetapi hukuman mati memang tidak dapat dijatuhkan sehingga interogasi terhadap identitas Yesus perlu dilakukan. Pernyataan Yesus mengenai identitas dirinya sebagai Anak Manusia (yang ilahi) dilihat sebagai penghujatan kepada Allah yang tidak dapat diampuni dan harus dibayar dengan kematian. Tetapi keputusan  ini harus disyahkan oleh pemerintah Romawi sehingga Yesus dibawa kepada Pilatus.
Ø   Pemahaman teologi masing-masing penginjil :
v  Markus : Yesus menyatakan diri sebagai Hakim yang Akan Datang kepada mereka yang menghakimi-Nya.
v  Matius : jawaban Yesus atas pertanyaan mengenai identitasnya adalah “Engkau telah mengatakannya”. Terlihat ada penyembunyian identitas Yesus sebagai mesias. Hal ini harus dipahami dalam kerangka rencana penyelamatan Allah dalam Yesus sehingga peristiwa-peristiwa terkait dengan kisah sengsara dapat dipahami dalam terang iman gereja, seperti penyangkalan Petrus dan pengkhianatan Yudas.
v  Lukas : perhatian Lukas adalah pada sikap murid yang mengingkari gurunya tetapi kemudian menuju pada pertobatan. Yesus menyatakan diri sebagai Mesias dan Anak Manusia sehingga dengan demikian Ia menyatakan diri-Nya sebagai yang Ilahi. Ini dianggap penghujatan terhadap Allah oleh sidang
v  Markus dan Lukas mengisahkan dengan jelas bahwa yang membuat hukuman mati bulat dijatuhkan terhadap Yesus adalah juga pernyataan dirinya sebagai yang Ilahi, yang menghujat Allah.
4)        Di hadapan Pilatus
Ø   Perkara Yesus yang dibawa kepada Pilatus harus menjadi perkara politik agar Pilatus menaruh perhatian terhadap perkara tersebut. Dalam hal ini Yesus dituduh sebagai Mesias dalam arti pelopor kemerdekaan atau pembebasan politik.  Namun tuduhan ini harus mengena dan meyakinkan secara politik, Lukas mengemukakannya dalam injilnya (22:2) sehingga dalam tuduhan ini julukan Kristus diberi arti raja sebagai perkara politik.
Ø   Akan tetapi Pilatus tidak begitu saja menerima tuduhan ini, ia berusaha untuk membebaskan Yesus namun tuduhan yang diberikan kepadanya begitu berat sehingga usahanya tidak berhasil.
Ø   Hanya dalam injil Lukas, dikisahkan bahwa Pilatus mengirim Yesus kepada Herodes. Herodes mengajukan berbagai petanyaan tapi tak ada yang dijawab Yesus bahkan permintaan Herodes untuk melihat mujizatpun tidak terpenuhi. Kemudian Herodes juga mulai mengolok-olok Yesus dan mengenakan pakaian kebesarannya kepada Yesus untuk menyatakan kepada Pilatus bahwa Yesus sama sekali bukanlah pemimpin gerakan politik sesuai dengan tuduhan yang ada.
Ø   Ada kebiasaan pada setiap paskah untuk membebaskan satu orang hukuman. Disana ada seorang tahanan bernama Barabas. Pilatus melihat peluang ini sebagai cara untuk membebaskan Yesus tetapi ternyata perkiraan Pilatus meleset ditambah lagi pertanyaannya yang kurang tepat sehingga malah Barabas yang dibebaskan sedangkan Yesus dijatuhi hukuman mati. Yesus mati dengan tuduhan sebagai penjahat politik.
Ø   Sebelum disalib Yesus disesah terlebih dahulu. Menurut Suharyo, Yesus dinista dan diolok-olok di tengah-tengah sidang dan pada akhir sidang kemudian disesah sebelum disalibkan. Markus melihat hal ini dalam misteri Allah yang tidak dapat dimengerti oleh manusia. Matius melihatnya sebagai Perjanjian Baru yang diteguhkan dengan darah Kristus. Lukas mengarahkan perhatiannya pada Yesus yang tidak bersalah. Hal ini terlihat dari pernyataan Pilatus yang tiba-tiba dengan mengatakan bahwa Yesus tidak bersalah. Sehingga menurut Lukas sekalipun Yesus dijatuhi hukuman mati Ia tetaplah tidak bersalah.
5)        Kalvari
Ø   Hukuman salib adalah bentuk hukuman mati untuk budak karena sangat kejam dan merendahkan martabat orang yang menjalaninya. Dalam rangka penyelamatan kematian Yesus adalah peristiwa yang menentukan. Oleh salib Yesus kembali kepada kemuliaan-Nya dan setiap orang percaya ikut mati bersama dia dan mulia bersama-Nya
Ø   Dalam perjalanan menuju tempat penyaliban Simon dari Kirene dipaksa untuk membawakan salib Yesus. Oleh Suharyo sikap ini dinilai sebagai model seorang murid yang “memikul salib sambil mengikuti Yesus”
Ø   Sebelum disalibkan Yesus diberi anggur bercampur mur yang berguna sebagai obat bius untuk menghilangkan rasa sakit. Akan tetapi Yesus menolaknya. Hal ini menurut Suharyo dilakukan karena Yesus ingin mengalami semua penderitaan secara sadar sampai akhir.
Ø   Di atas salib[un Yesus masih diolok-olok. Hukuman yang dijalani-Nya bertentangan dengan pernytaan diri-Nya selama ini. Sehingga menjelaskan bahwa semua pernyataan dan tindakan Yesus tidak layak dipercaya.
Ø   Sesaat sebelum wafat Yesus berseru “Eloi, Eloi, lema sabachtani” (Mazmur 22:2) yang disalah mengerti sebagai Elia. Namun pendapat ini sulit diterima. Kemungkinan besar Yesus menyambung dengan seruan nyaring mazmur 22:11 “… Engkaulah Allahku” yang dalam bahasa ibraninya “Eli atta” yang mungkin salah didengar menjadi “Elijja ta” yang berarti Elia datanglah!
Ø   Setelah Yesus wafat, mayatnya diturunkan oleh Yusuf dari Arimatea dan dimakamkan. Setelah melihat semua kronologi dalam semua injil mengenai waktu wafatnya Yesus maka kronologi yang diikuti adalah kronologi injil Yohanes, Yesus wafat pada hari dan saat ketika anak domba Paska dikurbankan, yaitu tanggal 14 Nisan tepatnya hari Jumat untuk tahun 30 M, bertepatan dengan tanggal 7 April 30 M. hal perjamuan Paska terakhir bersama murid-murid dapar kita pahami bahwa Yesus merayakan Paska sebelum Paska sebenarnya tiba.
Ø   Markus melihat wafatnya Yesus sebagai pernyataan diri Yesus secara penuh bahwa Ialah Anak Manusia, Hamba Yang Menderita. Setelah cerita panjang tentang gelapnya penderitaan Yesus penginjil mengisahkan sebuah pengakuan iman yang luar biasa “sungguh orang ini adalah Anak Allah” (15:39)
Ø   Matius memahami wafat Yesus sebagai pemenuhann nubuat : sejak wafat-Nya Yesus duduk di atas takhta kemuliaan Allah sebagai Mesias keputraan ilahi-Nya dinyatakan dan dengan demikian ia membuka jalan bagi orang kafir untuk untuk masuk ke dalam persekutuan hidup dengan Allha dalam kenisah yang baru.
Ø   Menurut Lukas wafat Yesus memberi contoh penyerahan diri yang utuh kepada Allah dan teladan pengampunan.
4.        Kesimpulan dari penulis
Keinginan para pemimpin Yahudi untuk membunuh Yesus telah terjadi. Baik rencana maupun cara pembunihannya telah mereka susun sedemikian rupa untuk menyatakan bahwa pernyataan-pernyataan diri Yesus dan tindakannya yang melawan hokum Taurat dan kenisah sama seklai tidak benar. Pelaksanaan hukuman mati yang terjadi sekitar Paska ingin mengunmumkan bahwa Yesus adalah orang yang dikutuk Allah. Tetapi orang Kristen memahaminya dalam rencana Allah sehingga dihayati, direnungkan, dimaknai dan diwariskan sebagai kekayaan. Kisah ini diwariskan oleh masing-masing penginjil dengan gayanya masing-masing.
Sejarah penyelamatan Allah terhadap manusia genaplah sudah. Dalam kenisah yang baru orang dapat masuk ke sana dan mengalami persatuan hidup dengan Allah.
Para penginjil sinoptik melihat semuanya ini dalam terang kebngkitan sebagai tindakan Allah yang mengubah dunia. Sehingga dunia diresapi oleh kemuliaan Allah. Inilah inti iman Kristen. Dari hari ke hari orang Kristen berusaha untuk mencapai dan mengalami campur tangan Allah dalam hidupnya. Dan kisah sengsara Yesus Kristus adalah kekayaan yang tak terhingga dan sumber yang tak akan pernah habis untuk menimba makna kehidupan.

5.        Penilaian  terhadap ide-ide penulis
Ø   Positif
Penulis mampu menyatakan argument-argumren yang membuat penulis berpikir dari sudut pandang yang lain dari kisah sengsara Yesus Kristus. Selain itu apa yang penulis hasilkan dalam karyanya ini adalah sebuah kekayaan karena penulis menghantar pembaca untuk memahami secara mendalam dan lengkap kisah sengsara Yesus dalam injil sinoptik, melihat perbedaan mencolok diantara ketiga injil tersebut dan melihatnya dalam konteks masing-masing injil.
Ø   Negative
Kekurangan yang saya lihat dalam tulisan ini adalah ciri tulisannya yang sangat teologis dan pemaparan gagasan-gagasan dengan hanya menggunakan literatur Alkitab dan tradisi (yang belum dapat dipastikan kebenarannya) dan beberapa buku sementara kita juga harus melihat Alkitab dari sisi yang lain. Kemudian penggabungan kisah sengsara dalam injil sinoptik seakan-akan mempermiskin pemahaman, ide, teologi atau hal apapun yang ingin disampaikan oleh masing-masing penginjil.
6.        Sumbangan pemikiran terhadap konteks kita
Ø    Menambah referensi pembaca masa kini mengenai peristiwa yang telah terjadi ribuan tahun  yang lalu ini.
Ø    Bagi diri saya pribadi, tulisan ini sangat bermanfaat bagi informasi dan pemahaman saya terhadap kisah sengsara Yesus. Karena tulisan ini langsung membandingkan kisah yang sama dalam tiga injil saya langsung dapat melihat perbedaan-perbedaan yang menonjol dan kepentingan-kepentingan penulis dalam menulis injilnya.
Ø    Bagi kaum awam, tulisan ini sangat membantu dalam membantu dan memahami misteri kisah sengsara dan wafat Yesus dalam sebuah kisah yang utuh.
Ø    Membantu pembaca masa kini untuk memahami peristiwa sengsara Yesus dalam konteksnya pada zaman dahulu.