Minggu, 20 April 2014

#Chapter2 Pengecualian Besar




Ayat Alkitab yang menjadi titik tolak dari bab ini dan keseluruhan buku ini adalah Matius 6:33 “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Ayat ini akan menjadi alasan utama mengapa setiap orang berniat untuk menikah. Gary Thomas mengulas hal ini dengan sangat jelas dalam sebuah kalimat yang perlu kita pertimbangkan dengan matang-matang: “mungkin jatuh cinta saja tidak cukup untuk memutuskan menikah dengan seseorang.” Mengapa? Kita harus menemukan sebuah alasan yang jauh lebih tinggi dari sekedar jatuh cinta. Ada orang yang begitu mudah memutuskan untuk menikah dengan seseorang hanya karena ia mencintainya dan sulit melepaskan hubungan itu dengan alasan yang sama meskipun ia harus menyaksikan pernikahannya hancur dan ia menjadi korban.  Gary memberikan sebuah contoh tentang seorang perempuan yang telah 2 kali gagal dalam pernikahannya dan sekarang juga melakukan kesalahan yang sama dnegan pria ke-3, yakni menikah hanya karena alasan bahwa ia mencintai laki-laki itu meski laki-laki tersebut adalah seorang pemaksa, sering mengucapkan kata-kata kejam dan 2x dalam seminggu membuat perempuan ini menangis. Namun, si perempuan mengungkapkan alasan mengapa ia masih tetap mempertahankan laki-laki ini karena ia mencintainya. Hal yang sama yang terjadi pada 2 suaminya sebelumnya, ia menikahi mereka karena ia mencintai mereka sebelum pada akhirnya setelah menikah ia mengetahui bahwa mereka adalah laki-laki brengsek, egois, pemarah dan bukanlah lelaki yang benar-benar ia impikan untuk menjadi suaminya. Itulah sebabnya, perasaan jatuh cinta dengan seseorang bukanlah alasan yang cukup untuk menikah, kita harus menetapkan standar yang lebih tinggi. Carilah sesuatu yang lebih.

Minggu, 13 April 2014

Banyak cara yang Ia punya

Seminggu yang lalu aku sakit. Typusku kambuh. Tapi meski kesakitan, aku bersyukur bisa sakit, berhenti sejenak dari kesibukan, menikmati hari libur di saat yang lainnya bekerja, boleh tidur sepanjang hari, berhenti memikirkan pekerjaan dan banyak tugas lainnya yang berteriak-teriak minta dikerjakan, memaklumi diri sendiri dan yang paling penting memiliki waktu bersama Tuhan dan diri sendiri. 

Minggu sebelumnya, teman baikku di kota Hati Beriman juga sakit, lewat bbm aku bilang ke dia kira-kira begini: "waktu sakit itu waktu istirahat, tandanya kalau tubuh kita memang ada batas kuatnya, meski harus terpaksa istirahat di saat ada begitu banyak tugas menanti, namun waktu sakit adalah waktu yang baik untuk merefleksikan semua kebaikan Tuhan yang mungkin jarang kita lakukan ketika sehat." Lalu beberapa hari kemudian aku jatuh sakit. Reaksiku? Kalimat di atas terngiang-ngiang di telingaku. Tidak ada sikap lain selain bersyukur bisa sakit meskipun sulit karena aku kesakitan (suhu badan mencapai 40 derajat, sakit kepala, susah tidur, dan badan lemas). 

Sebenarnya ada hal yang jauh lebih menarik dari sakitku kali ini. Sakit ini adalah salah satu konsekuensi dari sikapku yang menyerah terhadap keadaan. Meski tidak selalu begitu, tapi sakit fisik seringkali dipicu karena sakit mental. Aku mengalami tekanan luar biasa yang sulit kuatasi di dunia kerja (sekolah), entah karena tidak cocok dengan sistemnya, lingkungannya atau memang karena passionku bukan disitu, aku tidak selalu nyaman berada di sana. 2 minggu lalu adalah puncak di atas segalanya. Aku bosan, muak, dan merasa tak punya semangat menjalani 2,5 bulan ke depan. Aku merasa di depanku ada palang berat berwarna hitam yang membuat segalanya rumit dan berat. Aku ingin secepatnya mengundurkan diri dan pulang ke rumah (dalam arti yang sebenarnya), namun aku tidak dapat melakukannya. Aku orang yang tidak bisa begitu saja menyerah pada komitmenku. Di satu sisi aku ingin sekali menyerah, di sisi yang lain aku tidak dapat menyerah begitu saja. Lalu aku berpaling mencari pertolongan pada Tuhan. Merana, kecewa, tetapi tetap berharap juga. Hari-hari kujalani tanpa semangat, lalu badanku mulai lemas karena kehilangan tenaga dan semangat (penyebab semua ini masih karena perjuanganku untuk menyerah dan bertahan). Lalu saat mentalku benar-benar sakit dan fisikku tidak mampu bertahan karena semangatku merosot, penyakit dengan gampangnya menyerang tubuhku. Alih-alih menyesal, aku justru bersyukur, Tuhan menjawab doaku, memberiku waktu istirahat yang cukup. Meski sakit sama sekali tidak mahal, tapi aku bersyukur bisa sakit. Aku memang drop tenaga, semangat, dan kekuatan tetapi justru ini cara Tuhan memulihkanku. 

Perhatian dari keluarga ibu di rumah, jemaat, pendeta, dan anak-anak murid menjadi suntikan semangat tersendiri. Anak-anak murid datang dengan membawa puding buatan mereka yang membutuhka perjuangan. Mereka bilang: "miss kita capek banget, tapi kog yo senang??" Mereka tidak tahu, itu rahasia dan kekuatan cinta. Segala sesuatu yang dilakukan dengan cinta hasilnya selalu berbeda. Capek tapi bahagia. 

Aku istirahat total selama 5 hari. Aku bersyukur di hari terakhir aku sempat melakukan refleksi. Merefleksikan dan merenungkan semua kebaikan Tuhan. Cara Tuhan memulihkan semangat dan tenagaku, melembutkan hatiku. Aku tersanjung dengan cara Tuhan menungguku mengambil keputusan untuk melayaniNya, Dia dapat saja memaksaku namun kasih tidak pernah memaksa, betul? Dia melakukan cara paling lembut: Ia menunggu dengan sabar. Dan ini membuatku tersanjung. Bagiku, ini adalah sebuah pertobatan. Berbalik dari kepentingan diri, mimpi dan obsesi pribadi menuju impian dan kepentingan Tuhan. 

Banyak cara Tuhan memulihkan, salah satu dengan sakit.
Sekarang aku telah menjadi kuat kembali, aku sehat baik fisik dan mental
Luar biasa cara Dia memulihkan...






Temanggung, 14 April 2014

Selasa, 25 Maret 2014

He will be there...


Today I Will Walk with my hands in God

Today I will trust in Him and not be afraid
For He will be there, for He will be there
Every moment to share, on this wonderful day
He has made

Lagu ini memang kebanyakan dinyanyikan di resepsi pernikahan.
Aku tidak sedang ingin menikah ketika menyanyikan lagu ini
Tidak!
Aku sedang memutuskan sesuatu yang sangat besar untuk hidupku, masa depanku
Mundur ke belakang saat banyak orang bergerak lari maju ke depan
Mundur untuk belajar merendahkan diri di hadapan seseorang
Mundur untuk memilih sesuatu yang selama ini kuhindari
Berbalik arah dari impian dan cita-cita besarku selama ini 
Bergerak mundur dalam sadar untuk menjadi lebih rendah hati

Jalan di depanku tidak akan pernah mulus
Tidak mungkin tanpa tantangan
Belum tentu tanpa air mata dan pergumulan
Tantangan dan pergumulan adalah hal yang pasti untuk perjalanan ini
Namun aku menantang diriku lebih dari semua impian dan cita-cita besarku
Biar saja teman-teman bergerak maju sambil berlari
Aku akan baik-baik saja dengan berjalan mundur
Aku pasti akan baik-baik saja dengan pilihan ini

Aku tahu siapa yang aku pilih
Dan dia juga memilih aku
Meski akan banyak rintangan dan air mata
Meski banyak jalan penuh luka dan harus tertatih-tatih
Meski harus berurai air mata aku akan membuktikan pada diriku bahwa pilihan ini tak pernah salah dan tidak akan pernah salah

Ibarat menaiki anak tangga
Perjalanan mundur ini seperti mengulang sesuatu dari awal
Seperti memulai sebuah perjalanan dari anak tangga yang paling bawah
Tetapi bahwa ia yang kupilih ada disana bersamaku
Ia ada jauh di depanku untuk menungguku mencapai puncak
Ia ada tepat di sampingku untuk menggandeng tanganku dan memberi semangat
Ia ada tepat di belakangku untuk memberiku kekuatan saat aku lelah
Ia ada tepat di satu anak tangga di depanku untuk siap menerima tanganku kala aku mendaki naik
Ia ada di sana menemani perjalananku

Aku benar-benar hanya mau memilih jalan ini untuk membuktikan pada diriku bahwa ini bukanlah jalan kehinaan,
Ini adalah sebuah jalan kemuliaan

Masih dalam perjalanan 40 hari ini...
Tapi aku sudah mempunyai jawaban untuk pergumulan 40 hari ini

Terlalu banyak kita berdoa agar Tuhan menjawab doa kita
Kali ini aku berdoa agar aku yang menjawab doaku sendiri:
"with all my heart, I'm ready GKS... See you very soon"





Temanggung, March 26, 2014

Rabu, 05 Maret 2014

Is, saya pengen daftar vicarisss....

Beberapa hari yang lalu seorang saudari, sahabat, teman seperjuangan dari GKS meminta dukungan doa karena akan memasukkan lamaran untuk menjadi vicaris. Membaca pesan singkat yang ia kirimkan melalui SMS tak ayal membuat saya syok menatap HP. Vicaris? Bukankah teman saya ini sedang merencanakan melanjutkan studi ke S2? 

SMS ini mengganggu saya. Mengapa? Karena dari angkatan 2008 asal GKS yang berkuliah di FTeol hanya 3 orang (angka yang sangat jarang dan hebatnya kami bertiga perempuan semua). Salah seorang mendahului kami ke rumah Bapa pada awal tahun 2012 lalu. Ia pergi menyelesaikan tugas pelayanannya di dunia. Kini tinggallah saya dan teman saya ini yang sudah lulus dari FTeol 2-1 tahun yang lalu. Saya memilih tinggal di Jawa dan bekerja serta melayani di kota kecil yang dinginnya seperti Salatiga tapi tidak/belum senyaman Salatiga. Tetapi teman saya ini memilih pulang ke Sumba. Di sana ia jatuh sakit tetapi masih berencana untuk melanjutkan studi S2. Lalu entah bagaimana ia sembuh dan sekarang saya mendapat kabar bahwa ia akan melamar ke kantor Sinode GKS untuk menjadi VICARIS.

Pagi tadi ia kembali mengirimkan pesan. Ia sudah diterima sebagai Vicaris GKS dan ditempatkan di GKS Tenggaba. Membaca sms itu banyak perasaan bergejolak di hati saya. Senang, excited, wow, bahagia, dan satu perasaan aneh yang tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Mungkin perasaan itu adalah perasaan menghakimi dari dalam hati kecil saya => "kapan kamu akan menjadi vicaris?"

Sejujurnya saya sangat senang. Sebab teman, sahabat, saudari saya ditempatkan di gereja dimana di sana keluarga mama besar berkumpul. Gereja itu adalah kampung halaman mama. Menerima dia sama saja dengan menerima seorang anak perempuan seperti saya. Saya hanya sedikit kuatir dengan pertanyaan: "kenal nona ris?" "dia sudah selesai kuliah?" "oh, kenapa belum pulang jadi vicaris?" (saya berharap sih pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah ditanyakan). 

Bukan ini sebenarnya yang menyebabkan perasaan aneh di hati saya. Bukan. Perasaan itu adalah perasaan rindu sekaligus perasaan ego saya yang tidak/belum siap menjadi vicaris. Selain di sisi lain, saya benar-benar tergila-gila untuk studi lanjut, di sisi yang lain saya tidak benar-benar siap menjadi vicaris. Bukan Vicarisnya yang membuat saya tidak siap. Sebenarnya saya sedang tidak siap memikul salib. Saya tidak siap jika ditempatkan di jemaat pedesaan yang tidak mempunyai listrik dan sinyal. Saya tidak siap ditempatkan menjadi pendeta jemaat seumur hidup di satu jemaat apalagi jika itu di pedesaan. Bagaimana dengan keluarga saya? Bagaimana jika saya menikah? Anak-anak saya, bisakah mereka mengenyam pendidikan yang layak jika di desa? dan sejuta penolakan-penolakan lain.

Saya tahu, saya terlalu sombong. Saya lupa pada satu-satunya keinginan di hati saya dulu dan janji saya pada papa sebelum berangkat kuliah ke Jawa. Dulu saya berjanji untuk pulang dan menjadi pendeta. Namun sekarang untuk pulang saja saya bergumul terlalu banyak. Sampai di titik ini saya sadar memikul salib bukan perkara yang mudah. Itu sebabnya saya lebih memilih menghindari salib, memilih jalan yang lain yang lebih mudah. Sungguh menyedihkan.

"Salib memang lambang penghinaan sehingga tidak banyak orang mau menjadi hina karena memikul salib."

Begitu tulis saya di renungan persekutuan wilayah bulan ini. Dan saya tertegun ketika mengetik kalimat ini. Kalimat ini menggambarkan diri saya. Salib memang lambang penghinaan sehingga saya TIDAK MAU MENJADI HINA KARENA MEMIKUL SALIB.

Ya Tuhan..... 
Sementara banyak teman-teman seperjuangan saya berlomba-lomba menyerahkan diri melayani Tuhan, saya menghindar dari jalan ini. Alasannya adalah karena saya merasa ini jalan kehinaan. Saya tidak siap tertolak, tidak siap hidup sederhana, tidak siap dipakai Tuhan. Saya tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Tuhan... Saya sungguh-sungguh berharap setelah masa prapaskah ini saya benar-benar dapat memutuskan saya akan ke mana. 

Kalimat yang saya tulis di atas tidak berhenti di kalimat itu. masih ada lanjutannya: 


"Tetapi di sisi yang lain salib adalah lambang kemenangan, pemuliaan dan kehidupan. Tidak ada kehidupan tanpa salib dan kematian. Puncak kemenangan kekristenan justru terjadi di masa paling kelam yaitu di masa penderitaan. Salib dan kematian Yesus adalah puncak kemenangan orang Kristen. Tidak ada kebangkitan dan jaminan hidup kekal tanpa salib dan kematian."

Mengimani, melakukan dan mengikuti jalan salib inilah yang saya gumuli dan sedang perjuangkan selama 40 hari ini. Semoga saya dapat terus mengikut Dia. Berjalan terseok-seok... Langkah-langkah kecil... sampai kalimat memelas ini "is, saya pengen daftar vicaris..." dapat saya jawab dengan pasti "yuk..."


*postingan terjujur dari lubuk hati yang paling dalam*

NB: bagi sahabat terbaik saya, selamat melayani ya. terima kasih mengingatkan saya tentang hal ini

Kamis, 27 Februari 2014

Edisi ulang tahun

Yeiiiiiiiiiiiii............ 28 Februari 2014
So excited...
Meski berbeda jauh dari tahun-tahun sebelumnya tanpa kehadiran teman-teman di Salatiga yang sekarang sudah tersebar ke seluruh Nusantara *cieee bahasanya* jadi menurutku tahun ini bakal sepi. Namun saya salah. 
Anak-anak murid kelas 5 yang sudah hampir sepanjang bulan ini menyanyikan lagu "happy b'day" saat masuk ke kelas mereka karena mereka gak tahu tepatnya tanggal lahirku
Jadilah ketika hari ini aku membagi-bagikan makanan pada guru-guru dan tante-tante di kantin mereka jadi tahu kalau ulang tahunku hari ini dan hebohlah satu sekolah *bahasanya... gak juga kalee*
Dan ternyata kelas 5B ini sudah menyiapkan kejutan bertahap
kejutan pertama dengan memanggilku paksa ke kelas mereka dan mereka menyanyi sekeras-kerasnya "selamat ulang tahun"


kelas 5b tapi sesi 2

Kelas 2 menonton dari luar dan mereka tak mau kalah, heboh-heboh di depan pintu, masing-masing balik ke kelas dan menyiapkan lagu, hihiihih 

Kelas 2

Kelas 2


Salah satu murid memanggilku untuk ke kelas 2, hihiihih 




Belum selesai ternyata di kelas 5b ada kejutan part 2, ini bagian intinya. Mereka sudah menyiapkan tart, ada seksi pemaksa, maksudnya yang memaksa saya harus ke kelas mereka. Jadilah, kejutan part 2






 
Tak lupa kadoanya...
Bengbeng adalah pemberian Fabe, anak kelas 2. Itu pasti bagian jajannya hari ini. Dia mau memberikannya untukku... #terharuuu

Butter cookiesnya adalah pemberian Putra, anak kelas 2 juga. Dia datang ke kantor dan berbisik: "miss ester katanya ultah ya?" "iya" "Tak kasih ini ya miss, selamat ulang tahun"
Dia mengeluarkan butter cookies dari saku celananya. Aku bertaruh ini juga pasti jajanannya hari ini. #terharuuu lagi

Kadonya adalah pemberian Nike, anak kelas 5B, motor dari semua kejutan dari kelas 5b. Isinya adalah hiasan salib dan dan anak berdoa. Pilihan yang bagus, mengingatkanku untuk rajin berdoa. 
kan,... aku selalu senang dengan pemberian....:)
Anak-anak ini membuatku hariku terasa sangat spesial, berasa jadi ratu sehari...
terima kasih, terima kasih, terima kasih, terima kasih 
anak-anak selalu menginspirasiiii
Selamat ulang tahun dirikuuu \(^_^)/

Rabu, 26 Februari 2014

Sahabatku senang memberi kejutan

Hari ini kelas 2 ulangan harian
Soal terakhir berbunyi: mengapa kita berempati pada orang lain?
Jawabannya beragam, namun ada satu jawaban yang mengusikku
"karena Tuhan telah terlebih dahulu menunjukkan empatinya pada kita."
Aku ingin bertanya lebih lanjut: "kapan?"
Ah.. pertanyaan yang bodoh
Aku ini guru agama, masa gak tahu?
Dan bertanya pada anak kelas 2? yang benar saja...

Aku urungkan niatku, memilih merenungkan kalimat tersebut
Benarkah demikian? Pada saat mana ia berempati padaku?
Apakah ia juga merasakan betapa hatiku merana?
Apakah ia juga terluka saat aku terluka?
Lalu, apa yang telah, dan akan Ia lakukan?
Menonton? mungkin...
Aku gak punya ide lain

Aku bertanya-tanya: kenapa Ia justru membuat keadaan jauh lebih rumit disaat aku benar-benar ingin mempercayainya kembali?
Philip Yancey bilang: keraguanlah yang justru membuat ia bertahan pada kepercayaannya terhadap orang ini. Namun aku belum melihat kalimat ini bekerja banyak padaku selain bahwa aku masih membaca Alkitab, membaca buku2 teologi dan tidak berdoa

Orang ini yang dulu kusebut sahabat,
Seseorang yang tanpa ragu-ragu aku pilih
Membuang semua mimpi di bidang lain saat aku memutuskan memberikan seluruh hidupku untuk hidup bersama dia.
Aku ingat betapa dulu aku sangat antusias memilih jalan ini
Betapa bangga orang tuaku melihatku memilih dia

Namun, setelah tahun-tahun berlalu
Aku ragu, apakah ini pilihan yang tepat?
Ia tiba-tiba saja berubah menjadi sahabat yang demikian menyebalkan, yang sulit dipahami, yang penuh kejutan, dan yang jarang mau menjelaskan alasan dibalik setiap hal yang telah ia buat. 
Aku putus asa padanya, 
Sahabatku ini, aku tidak tahu dimana letak kesalahan hubungan kami, 
aku harus mengalah lagi, mungkin aku yang tidak pernah tuntas memahaminya
kami memang berbeda, ia senang memberiku kejutan bahkan disaat aku tidak senang menerima kejutan
Ia senang menguji kesetiaan dan kesabaranku sedangkan aku paling tidak suka diuji
Ia bahkan tak segan-segan memustuskan sesuatu bahkan sebelum bertanya padaku apalagi meminta persetujuanku, 
Ia senang melakukan semuanya sepihak, lalu saat semua berjalan tidak sesuai rencana dan harapanku, ia memintaku untuk mempercayainya
Ia menjadi sangat menyebalkan ketika aku bertanya banyak hal namun tak satu pun yang dijawabnya meski ia punya semua jawabannya

Sungguh, sahabatku ini lebih banyak menyebalkan akhir-akhir ini
Namun ada sebuah kenyataan yang entah harus disambut gembira atau sedih bahwa aku tidak dapat pergi darinya, tepatnya bahwa ia tidak dapat menjauh dariku
Sebenarnya aku tidak benar-benar memiliki seorang sahabat yang lebih baik dari dia
hanya dia satu-satunya yang kumiliki
meski ia banyak membuatku marah, ia satu-satunya yang paling bisa kuandalkan di saat-saat tergenting di hidupku

kami sedang marahan
kami ah tidak lebih tepatnya aku yang sedang menata perasaan
ia sedang menyiapkan kejutan, 
lagi-lagi aku gak suka kejutan
tapi ia sahabatku
pemberian sahabat tak boleh ditolak, kan?

semoga kami, eh tidak, salah, semoga aku lekas menemukan jalan berbaikan dengannya
dan sahabatku ini sedang menatapku menulis, menonton di sampingku
mungkin ia tersenyum, ah.. aku sungguh tak peduli,
tunggulah sampai kita berbaikan
aku hanya ingin memarahimu sekali ini lagiii
cobalah membuat hal ini jauh lebih mudah
bantu aku menemukan jalan pulang padamu, sahabatku...


sahabatmu,
edww



Selasa, 25 Februari 2014

Jangan terlalu setia melayani!!

Siapa bisa mengelak dari kematian?
Tidak ada satu pun!
Setiap orang suka atau tidak, siap atau tidak, akan berhadapan dengan hal ini
Tidak ada hal yang paling pasti mengenai masa depan selain bahwa setiap orang pasti akan mengalami kematian
Bagi yang mengalaminya mungkin itu adalah awal bagi sebuah kehidupan baru di seberang sana
Namun, bagi yang ditinggalkan, dunia rasanya berhenti berputar apalagi jika kehilangan terjadi berturut-turut
Semalam mendapat kabar bahwa kakak kandung dari Alm. kak Ady juga telah dipanggil pulang oleh Tuhan

Entah harus berkata apa, luka lama karena kepergian kak Ady belum juga sembuh sekarang harus menerima kabar serupa. 
Bagaimana mungkin dua orang bersaudara yang mendedikasikan seumur hidupnya untuk melayani Tuhan, Dia biarkan mereka meninggalkan begitu saja bahkan dengan penderitaan hebat sebelum meninggal.

Aku bertanya-tanya: "belum cukupkah bagi Tuhan apa yang mereka korbankan selama ini sehingga Tuhan merasa perlu membuat mereka demikian menderita dengan penyakit yang sama?" Sungguh tega! Bagaimana Allah semacam ini dapat menjelaskan hal ini dan membuatku mengerti?

Ketika kak Ady pergi, aku berjuang mati-matian menerima dan menjelaskan dengan akalku bahwa kak Ady mungkin sedang 'dibanggakan' Tuhan pada Iblis seperti kisah Ayub lalu Allah membiarkan kak Ady pergi begitu saja.

Namun, kali ini? Teologi apa yang mau dibangun? 
Terluka kembali, marah, kesal, dan satu-satunya Pribadi yang layak bertanggung jawab adalah: TUHAN
Bagaimana IA menjelaskan hal ini?

Mungkin dengan berat hati aku harus menyimpulkan hal ini: "jangan terlalu mendedikasikan seumur hidupmu bagi TUHAN, apa yang kemudian dialami oleh orang-orang ini? Penderitaan tiada akhir! Bahkan tidak ada kematian terhormat! Yang ada hanya kematian tak berdaya karena menderita. Jangan terlalu setia! Jangan terlalu berdedikasi melayani!"

Sungguh Tuhan, aku hanya takut, aku berakhir sama seperti mereka... 



Temanggung, 26 Februari 2014